2021-01-21 10:00:00

Widayanto


widayantoku@gmail.com 


Semenjak awal tahun 2020 hingga sekarang, pandemi covid-19 menjadi topik perbincangan yang cukup marak. Virus corona merupakan virus yang cukup menakutkan karena menyebabkan kematian yang cukup besar. Angka kumulatif kasus positif Corona menurut laporan terakhir di RI saat ini berjumlah 939.948. Satgas mencatat juga pada minggu terakhir ini terdapat rekor kasus meninggal harian tertinggi selama pandemi Corona, yaitu 306 kematian dalam satu hari. Pandemi Covid-19 di Indonesia membawa imbas luas dalam segala sektor kehidupan tak terkecuali domain pendidikan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan oleh pemerintah sebagai salah satu upaya untuk memutus penyebaran Covid-19 ini. Yang teranyar, Pemerintah berencana memperpanjang penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Pulau Bali guna menekan laju penularan virus corona (Covid-19) (CNN Indonesia).




Menteri Agama melalui Direktur Jenderal Pendidikan Islam mengeluarkan Surat Keputusan dengan Nomor 2791/2020 tentang Tindakan Pencegahan Penyebaran Virus Corona Disese-19 di lingkungan Kementerian Agama. Menteri Agama menyatakan agar semua kegiatan belajar mengajar di madrasah dan termasuk pendidikan dan pelatihan (diklat) dilaksanakan secara daring, baik melalui platform yang disediakan oleh Kementrian Agama atau platform e-learning lainnya.




Dampak pandemi virus Covid-19 mengharuskan masyarakat mengubah cara-cara dalam bersosial. Perubahan cara tersebut juga mengakibatkan terjadinya perubahan dalam proses belajar mengajar di dunia kediklatan. Situasi pandemi Covid-19 sekarang ini mengharuskan diklat tetap dikembangkan sebagai peningkatan kualitas SDM terutama di Indonesia.


Pembelajaran daring dilakukan sebagai pilihan strategis dalam memutus penularan wabah Covid-19 di dunia kediklatan, hal ini disebabkan esensi pembelajaran daring ialah dilakukan tanpa bertemu secara langsung. Saat ini banyak pelaksaan diklat yang mulai menggunakan teknologi dan mengimplementasikan sistem pembelajaran daring guna mendukung kegiatan pembelajaran. Hal ini memicu widyaiswara untuk mengubah strategi belajar mengajarnya. Widyaiswara harus membuat perangkat pembelajaran berupa kelas online yang memfasilitasi peserta diklat untuk belajar dari daerah tempat tinggalnya. Pemakaian metode pembelajaran yang tepat, ketrampilan pengajaran online, disertai sikap dan budi pekerti yang luhur serta kesungguhan dan kerja keras widyaiswara dalam melaksanakan proses pembelajaran sangat diperlukan dalam menyukseskan program PJJ (Pelatihan Jarak Jauh).


Jenis pelaksanaan diklat di Kementerian Agama sebelum pandemic Covid-19 ada beberapa macam yaitu diklat dalam kampus dan luar kampus. Kedua jenis diklat tersebut dilaksanakan secara klasikal tatap muka. Narasumber yaitu widyaiswara berada di kelas secara langsung menyampaikan paparan materi sebuah mata diklat tertentu, diikuti oleh peserta diklat sebagai audience sebagai pembelajar yang secara aktif mengikuti paparan dari narasumber.


Dalam hal pelaksanaan kediklatan pada masa pandemi Covid-19 saat ini, diperlukan kehati-hatian dan harus mematuhi protokol kesehatan. Penggunaan masker, Tidak berkumpul dan menjaga jarak (physical distancing dan social distancing) adalah langkah-langkah protokol kesehatan yang disarankan dan diterapkan oleh pemerintah. Termasuk social distancing adalah tidak bersalaman, penundaan acara-acara besar, seperti pertemuan masyarakat, hiburan, olahraga ataupun bisnis termasuk pelaksanaan pembelajaran diklat (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Hal ini membuat kegiatan belajar mengajar kediklatan tidak bisa dilakukan seperti biasa. Pertemuan tatap muka di kelas menjadi tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.




Salah satu solusi agar proses belajar mengajar tetap bisa dilaksanakan adalah melalui inovasi dan diversifikasi jenis pelaksanaan diklat. Dalam RKA-KL kediklatan kemenag 2021, yang merupakan dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan dalam satu tahun anggaran serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya tertulis bahwa  jenis pelaksanaan diklat meliputi 1) diklat dalam kampus, 2) diklat luar kampus, 3) diklat luar kampus dengan cost sharing, 4) Diklat Jarak Jauh (DJJ), dan juga 5) diklat dalam bentuk Blended.


Agar widyaiswara sukses dalam menjalankan pembelajaran PJJ, ada beberapa tips yang perlu dilakukan. Beberapa aktivitas tersebut adalah: 1. Menyiapkan teknologi yang sesuai, 2. Merencanakan kelas online, 3. Memperhatikan keterlibatan peserta yang pasif, 4. Peserta hadir sepenuhnya. 5. Menjaga jalur komunikasi yang konsisten dengan peserta diklat, 6. Memilih dan melaksanakan kegiatan “Ice Breaker” yang sesuai. 7. Meminta umpan balik dari peserta diklat. Dan yang terakhir 8. Menghadirkan sikap “sabar” pada diri demi keberhasilan.




Pertama, Menyiapkan teknologi yang sesuai merupakan hal pertama yang perlu dipertimbangkan saat berpindah dari kelas regular klasikal ke kelas virtual. Aktifitas ini adalah menyiapkan perangkat keras yang benar dan perangkat lunak yang paling cocok untuk digunakan. Komputer yang bagus dengan koneksi internet yang handal adalah salah satu hal yang lebih mendasar untuk memastikan penyiapan pembelajaran online. Hal itu dapat meminimalkan kemungkinan gangguan saat proses belajajar mengajar berlangsung secara online. Juga, perlu dipersiapkan adanya solusi internet cadangan jika terjadi masalah tak terduga dari penyedia internet yang tersedia. Hal penting lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah Sistem Manajemen Pembelajaran (LMS) yang akan digunakan. Adalah penting untuk mengetahui LMS yang digunakan sebelum diklat dilaksanakan, sehingga widyaiswara bisa merasa nyaman dengan menavigasi fitur fitur yang ada dalam LMS tersebut.




Kedua, Merencanakan kelas online sangat penting karena kelas daring sangat berbeda dari ruang kelas tradisional. Kelas online membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda. Karena peserta diklat tidak hadir secara fisik, kebutuhan mereka berbeda dan widyaiswara perlu mendukung mereka dengan cara widyaiswara menempatkan diri pada posisi peserta diklat. Memberikan instruksi, pedoman, dan batasan yang jelas, serta menjelaskan bagaimana pembelajaran diklat akan disusun bisa membantu widyaiswara menciptakan dan memelihara lingkungan pembelajaran yang baik. Jadi, dipastikan dulu bahwa widyaiswara membagikan silabus dan materi pembelajarannya kepada peserta di LMS sebelum menjalankan diklat.


Ketiga, Memperhatikan keterlibatan peserta yang pasif perlu dilakukan seluruh dapat berinteraksi dan terlibat dalam ruang kelas virtual. Ada beberapa strategi yang harus diikuti untuk melibatkan semua peserta diklat: perlu diperhatikan bahwa tidak semua peserta memiliki motivasi diri, jadi melibatkan banyak peserta dan memastikan bahwa tidak hanya suara yang sama yang mendominasi kelas itu penting. Ini akan memungkinkan peserta untuk memahami bahwa keterlibatan itu penting dan diperlukan. Jajak pendapat dan kuis dapat menjadi alat yang efektif untuk memulai diskusi dan juga mengumpulkan ide peserta. Dengan cara ini  keterlibatan peserta dengan materi pelajaran lebih interaktif agar peserta diklat tetap aktif. Tantangan umum dalam lingkungan pembelajaran online adalah peserta dapat lebih mudah dialihkan. Jadi, perlu dicoba untuk berinteraksi dengan mereka secara individu setidaknya setiap lima belas menit.


Keempat, Peserta hadir sepenuhnya, tidak masalah bagi peserta diklat untuk bekerja rumah, di kantor mereka, di sofa, teras, atau bahkan tempat tidur. Kenyamanan itu penting, dan terkadang, satu-satunya tempat yang tenang di rumah mungkin ada di dalam “lemari” (yang merupakan ruang kerja pilihan peserta diklat). Tetapi di mana pun peserta bekerja, harapannya tetap sama: Mereka duduk tegak dan widyaiswara menghadap kamera, sama seperti saat widyaiswara berbicara dengan peserta secara tatap muka langsung.


Kelima, Menjaga jalur komunikasi yang konsisten dengan peserta diklat juga sangat penting demi menggapai sukses pada kelas online. Widyaiswara perlu untuk mencoba berkomunikasi dengan masing-masing peserta secara teratur, karena tantangan umum dalam lingkungan pembelajaran online adalah peserta dapat lebih mudah teralihkan. Jadi, widyaiswara perlu berinteraksi dengan mereka setidaknya setiap lima belas menit dan aktif membuat mereka tetap terlibat. Selain itu, hendaknya widyaiswara memiliki waktu luang tertentu setiap minggu dan memberi tahu peserta diklat waktu kapan mereka dapat menghubungi widyaiswara di luar kelas virtual.


Keenam, Memilih dan melaksanakan “Ice Breaker” yang sesuai terutama pada kegiatan synchronous yang lebih dari 3 jam pelajaran. Kegiatan tersebut boleh senam ringan berupa senam “Pinguin” agar supaya mereka tidak berpindah ruangan dan posisi. Widyaiswara bisa memimpin kegiatan ini melaui kamera sembari memutarkan video senam tersebut. Kegiatan ini penting untuk mengurangi “stressful” baik bagi widyaiswara ataupun terlebih lagi bagi peserta PJJ.


Ketujuh, Umpan balik peserta diklat dapat menjadi sarana berharga untuk merancang pembelajaran yang akan bermanfaat bagi peserta dan memberikan pengalaman belajar online yang efektif. Oleh karena itu, perlu meminta peserta untuk memberikan umpan balik tentang seberapa puas mereka dengan desain pembelajaran. Apakah mereka merasa terdukung selama pembelajaran? Topik lain untuk dibicarakan adalah isi LMS. Apakah peserta diklat memiliki ekspektasi yang jelas dari widyaiswara? Apakah mereka memiliki semua informasi yang mereka butuhkan? Apakah mereka tahu di mana harus mencari bantuan, jika menghadapi kesulitan teknis saat mengunggah tugas? Evaluasi pembelajaran dari peserta diklat dapat memberi widyaiswara umpan balik yang konstruktif tentang apa yang harus diperbaiki atau diubah dalam pembelajaran kelas online. Pembelajaran online yang sukses pasti menawarkan peluang untuk keterlibatan dan partisipasi peserta diklat. Begitu widyaiswara mulai menyiapkan kelas online-nya, widyaiswara tersebut akan meletakkan dasar untuk pembelajaran online yang efektif dan komunikasi yang solid dengan peserta diklat.


Kedelapan, Menghadirkan sikap “sabar” pada diri demi keberhasilan. Hal ini perlu dilakukan oleh widyaiswara, mengingat PJJ adalah sesuatu yang relative baru, sehingga keberhasilan pembelajaran PJJ tidak semudah didapatkan seperti pembelajaran regular – klasikal tatap muka langsung. Tentu butuh waktu dan ketelatenan dalam melaksanakan pembelajaran model ini. Belum lagi adanya beberapa kendala teknis berupa sinyal internet yang kurang stabil bagi widyaiswara dan lebih lebih bagi peserta yang berada di daerah terpencil. Firman Alloh dalam QS. Asy-Syuura: 43


“Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya, (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.


Salam Sukses bagi widyaiswara dalam menjalankan PJJ. Semangat !!!