2020-04-04 03:05:37
Dr. H. Muchammad Toha, M.Si.



(Kepala BDK Surabaya)



Kerja Rodi


Kerja rodi cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, sebenarnya kerja rodi tidak hanya terjadi di wilayah Hindia Belanda saja, akan tetapi juga dirasakan bangsa bangsa lain yang mengalami sebagai bangsa terjajah. Di Nusantara kerja rodi ini diberlakukan oleh Gubernur Jenderal Herman Williem Daendels yang datang pada tahun 1808 atas perintah Raja Belanda Louis Napoleon, dalam kerja rodi ini warga pribumi dipaksa untuk membangun berbagai infrastruktur baik sipil maupun militer, salah satunya adalah jalan raya mulai Anyer (Provinsi Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur) dikisahkan dalam pelaksanaan kerja rodi ini cukup banyak jiwa manusia melayang karena kerasnya kerja, tekanan fisik maupun psikis serta perlakuan yang tidak manusiawi.


Semua orang yang dipekerjakan kerja rodi ini dalam posisi bertaruh nyawa karena antara yang mempekerjakan dan yang dipekerjaan berapa pada level yang jauh berbeda, yang satu pada tataran merdeka yang satunya terjajah, sehingga jangankan memikirkan keselamatan dan kesejahteraan pekerja, matipun tidak menjadi masalah, maka untuk membangkitkan kesungguhan pekerja sehingga berhasil sesuai target rencana tidak dengan kata bijak berkearifan yang dapat membangun kesadaran tapi melalui letupan mesiu dan lecutan cemeti tentu saja sabanhari para pekerja dihantui kematian, hidupnya laksana ancik ancik pucuk e eri (telur diujung tanjuk).


Dalam kerja rodi ini dorongan orang untuk melakukan pekerjaan hanya karena ketakutan dan kematian, sehingga mereka bekerja banting tulang sekuat tenaga karena takut senjata yang berbicara atau cemeti yang berkata, sehingga pekerjaan itu benar benar dilakukan karena sangat terpaksa, maka sejatinya korban kematian para pekerja itu sesungguhnya merupakan akumulasi tekanan yang pada akhirnya berujung pada kematian yang sangat mengenaskan, karena fisiknya tersakiti, kebutuhan kalori yang tidak tercukupi, kebutuhan kenikmatin batini yang tidak terpenuhi sehingga sangat tersiksa jiwa raganya.


Kerja Bakti


Kerja bakti menurut pemahaman yang paling gampang adalah kerja bersama tanpa upah untuk kepentingan bersama atau anggotanya. Pada sebagian masyarakat  ada yang menyebut kerja bakti ini dengan istilah gugur gunung, sambatan atau gotong royong. Sebenarnya kerja bakti atau gotong royong ini merupakan tradisi masyarakat Nusantara dalam rangka menyelesaikan urusannya dalam suka dan duka, contohnya dalam urusan duka, apabila ada diantara anggota masyarakat meninggal maka para anggota masyarakat tersebut akan ikut ribut membantu menyediakan apa yang dibutuhkan dalam perawatan jenazah, ada yang memotong pohon pisang yang akan digunakan sebagai bantal saat memandikan jenazah ada yang mencari pohon bidara sebagai kelengkapan pemandiannya, ada yang menggerus kapur barus, ada yang menguntai bunga yang akan dikalungkan diatas keranda, ada yang menggali liang kuburnya dan ada juga yang memberikan beras atau hasil panen lainnya bagi keluarga yang sedang berduka.


Begitu juga dalam acara suka misalnya kawinan (nikahan) atau sunatan (khitanan) para tetangga ramai ramai mendirikan terop atau tarup sekarang dikenal dengan tenda yang pada jaman dahulu dibuat dari batang batang bambu dengan atap dari welit (ilalang atau daun tebu atau siwalan) yang ditali temali, seperti saat duka cita pada acara suka cita ini masyarakat akan terbangun kesadaran untuk memberikan apa yang mereka miliki pada siempunya hajat bahagia, ada yang membawa beras, gula, kelapa aneka palawija bahkan ada juga yang membawa ayam atau kambing dan rempah rempahnya.


Dalam kerja bakti ini orang akan memberikan apa yang dimiliki dengan tidak ada paksaan atau tidak akan dijerat hukum positif apabila seseorang tidak mengikuti atau pasif dalam kegiatan kerja bakti ini, paling hanya dianggap tidak mengerti adab dan adat bermasyarakat sehingga eksesnya berupa sanksi sosial, maka bagi anggota masyarakat yang ndablek (kurang peduli sosial) akan sering absen pada kegiatan kerja bakti ini tapi anggota masyarakat pasti ada yang mencatat dalam ingatannya atas keabaiannya dalam setiap kerja bakti dan diantaranya pasti akan membalas untuk tidak hadir saat orang tersebut membutuhkan kerja bakti dari masyarakat sekitarnya.


Kekhawatiran tidak dibantu oleh orang lain dalam masyakatnya inilah sehingga seseorang harus hadir dan terlibat dalam kerja bakti, terbayang bagaimana sengsaranya ketika punya hajat tidak ada yang membantu mendirikan terop, memasak aneka makanan dan bagaimana malunya ketika acara dilaksanakan, para tamu undangan tidak ada yang datang dan lebih tragis lagi jika itu terjadi pada urusan kematian. Kekhawatiran lagi pada masyarakat desa yang diliputi berbagai keterbatasan jika dibandingkan masyarakat metropolis, hampir semua kebutuhan acara, baik dalam suka maupun duka bisa dibayar dan peralatan bisa disewa jika ini dilaksanakan di kota dan tentunya bertolak belakang bila dilaksanakan di daerah pedesaan.


Kerja Profesi


Kerja profesi, sekilas antara kerja dan profesi bermakna sama karena sebagian besar masyarakat awam kalau perlu penjelasan kegiatan harian seseorang dengan pertanyaan kerjanya apa, dan itu disepadankan dengan profesinya apa. Padahal kalau diurai lebih detail terdapat perbedaan antara kerja dan profesi, hampir semua orang bekerja karena pekerjaan melekat pada kehidupan manusia dan kerja merupakan ikhtiar untuk memenuhi kebutuhannya, namun sebaliknya tidak semua manusia memiliki profesi karena biasanya profesi ini didasari adanya pendidikan, kediklatan atau pengalaman yang cukup panjang dan bahkan tidak sedikit mewajibkan adanya sertifikasi atas keprofesionalan tersebut.


Kendatipun tidak sedikit yang ngeyel dan ngotot bahwa kerja dan profesi tidak ada bedanya, kerja ya profesi, profesi ya kerja, namun sedikit ulasan untuk memudahkan memahaminya, misalnya, hadirnya seorang tukang potong rumput yang berpengalaman dan berkeahlian akan menghasilkan pekerjaan pemotongan rumput yang bagus dan cepat, namun bukan berarti bila tukang potong rumput tidak hadir,  selamanya pekerjaan pemotongan rumput tidak terlaksana, hal itu akan dapat digantikan orang lain dan usaha penggantian itu tidak terlalu susah walaupun kemungkinan hasilnya tidak sama.


Tentunya ini berbeda dengan keberadan seorang programmer, administrasi manager, teknik rancang bangun, atau pekerjaan kimia nuklir yang eksesnya sangat berbahaya bila dikerjaan serampangan oleh semua orang, begitu juga dengan tindakan medis yang dilakukan tanpa memperhatikan profesionalitas seseorang yang terjadi adalah pekerjaan koyol dan fatal. Hampir semua orang sepakat bila melihat bangunan yang indah elok menawan dalam bayangan akan terlintas sosok-sosok tukang batu berwajah desa berpenampilan culun sederhana bersahaja, tapi siapa yang berani menjamin adanya bangunan indah menjulang tinggi menerobos angkasa raya itu tidak runtuh ambruk berkeping keping merengggut banyak nyawa bila tidak melibatkan arsitek, ahli teknik rancang bangun.


Posisi Dalam Kerja


Berangkat dari ketiga jenis kerja diatas tentunya kita bisa meraba diri kita, kira-kira dalam bekerja kita tergolong yang mana ?, bagi seorang pekerja yang baik apalagi ASN hendaknya melahirkan rasa syukur yang luar biasa karena walaupun sama-sama dipekerjakan oleh penguasa tapi tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana pekerja rodi, sebaliknya bekerja dengan perasaan bebas merdeka tanpa adanya rasa takut yang menyelimuti seperti pekerja rodi, idealnya jika pekerja rodi melaksanakan tugas dalam ketakutan untuk dibunuh oleh penguasa yang dalam hal ini adalah penjajah, maka pekerja yang baik sekarang ini adalah merasa takut barangkali pelayanan yang diberikan pada masyarakat kurang maksimal.


Pekerja pada instansi pemerintah pastinya paham bahwa gaji dan penghasilan tambahan  kesejahteraan yang diterima salah satunya berasal dari berbagai pajak yang dihimpun oleh pemerintah dari masyarakat baik dari level berada sampai jelata atau yang dalam kajian Maxian kelas borjuis atau proletar, sehingga seorang pekerja akan berusaha memberikan pelayanan prima (paling baik) bagi masyarakat yang dilayaninya, sebagai wujud imbal balik terhadap jerih payah masyarakat yang telah menjamin hidup pekerja dengan keluarganya serta menyediakan sarana prasarana kerja yang dinikmati pekerja.


Kesadaran sebagai pelayan harus benar benar ditumbuhkan pada diri pekerja  terutama di masa kekinian karena keberadaan dan fungsinya jauh berbeda dibandingkan pekerja pemerintah tempo dulu, orientasi pegawai jaman dulu tidak ubahnya hanya sebagai pengumpul pajak sebesar besarnya bagi penjajah dan kalaupun memberikan pelayanan bukan karena kesadaran atas kewajiban yang harus ditunaikan pada masyarakat akan tetapi pelayanan yang diberikan pada masyarakat itu semata-mata mencarikan keuntungan bagi penjajah.


Misalnya, adanya pelayanan medis yang diberikan pada masyarakat pada waktu itu tujuannya hanya menjaga agar pemerintah penjajah tidak rugi karena para pekerja banyak yang sakit atau mati, sehingga hasil produksi yang menjadi komoditi ekspor penopang ekonomi penjajah menurun, kala itu misalnya pabrik gula yang banyak tersebar di Pulau Jawa, adanya perhatian terhadap kesehatan para pekerjanya, pertimbangannya karena para pekerja tersebut adalah aset terlatih dibidangnya dan sangat berpengalaman dalam pekerjaannya, bila pekerja tersebut masih dalam usia produktif lalu karena kesehatannya terganggu sehingga berhalangan permanen tidak dapat melaksanakan pekerjaannya akan memberikan kerugian besar bagi pemerintah penjajah.


Jika itu pada bidang pendidikan maka pelayanan itu bukan semata mata untuk mencerdaskan anak bumi putera tapi tidak lebih hanya menyiapkan tenaga terdidik untuk membantu pekerjaan pemerintah penjajah, sehingga yang boleh sekolah pada waktu itu sangat dibatasi, hal ini karena pemerintah penjajah harus menyeleksi calon peserta didik melalui keluarganya (orang tuanya) tentang bagaimana hubungan dan kesetiaannya terhadap pemerintah penjajah, sehingga tidak heran yang bisa sekolah pada waktu itu adalah kalangan elite sosial, elite politik dan elite ekonomi yang biasanya cukup familier dengan pemerintah penjajah.


Disamping itu, pengetahuan yang diberikan adalah yang mendukung kepentingan pemerintah penjajah, seperti, ilmu hitung, ilmu pertanian dan perkebunan, ilmu peternakan dan ilmu bangunan. Pentingnya ilmu hitung diajarkan oleh pemerintah penjajah karena pemahaman hitungan menjadi dasar pekerjaan lainnya terutama pekerjaan yang dibutuhkan pemerintah penjajah, sehingga bagi seorang mantri pengairan sekurang-kurangnya harus bisa menghitung debit air, mantri kehutanan bisa membagi jarak ideal luasan wilayah dengan jumlah pohon, begitu juga para sinder harus tahu luasan lahan yang ditanam dengan tonase yang dihasilkan.    


Bagi pekerja bangunan, sekurang-kurangnya harus mengetahui berapa kubik pasir, bata, kapur dan kayu yang diperlukan untuk mendirikan sebuah bangunan dan mengestimasi berapa lama waktu dan berapa orang pekerja yang diperlukan. Bukankah pada jaman penjajahan ini cukup banyak bangunan-bangunan yang masih berdiri kokoh dan dapat kita saksikan sampai hari ini, mulai tangsi militer, stasiun dan terowongan kereta, waduk,bendungan dan saluran irigasi pertanian, pembangkit dan gardu gardu listrik di perkotaan, dermaga dan pelabuhan, rumah dinas dan gedung pemerintahan sampai istana negara sebagai simbol pemerintahan.


Uraian berikutnya adalah kerja bakti, seorang pekerja tidak etis bila hanya memahami tugasnya sebagai abdi negara tidak ubahnya sebagai bentuk kerja bakti karena dalam kerja bakti yang paling dominan adalah sikap kesukarelaan, bagi yang sadar akan pentingnya hidup bersama maka akan melibatkan dirinya dan bagi mereka yang mengambil persamaan kerja bakti dengan hukum fardlu kifayah maka mereka akan pasif berdiam di rumah. Tentunya berbanding terbalik dengan kewajiban seorang yang bekerja pada instansi pemerintah yang digaji setiap bulannya.


Jika pada kerja bakti yang paling dominan untuk menggerakkan seseorang agar terlibat dalam pekerjaan yang tanpa gaji dan honor adalah karena dorongan perasaan dan kesadaran, kiranya dua hal itu ada baiknya juga digenggam oleh seorang pekerja pada instansi pemerintah, yaitu dengan menyadari sesadar sadarnya mereka yang tanpa gaji dan honor saja mau sukarela bekerja bagi sesama, lalu begitu nistanya bila kita digaji dan diberikan kesejahteraan justru tidak mau melaksanakan pekerjaan yang seharusnya kita tunaikan sebagai balasan dari apa yang kita terima.     


Lebih buruk lagi jika pekerja ini digolongkan tanpa perasaan, karena disamping tidak menyadari fungsi dan tugasnya terutama dalam memberikan pelayanan yang baik malah justru melakukan pungli dan sebangsanya yang dilebeli uang administrasi atau dengan istilah lain, padahal dalam bekerja seorang pegawai pemerintah sudah digaji negara, lengkap dengan alat tulis dan kebutuhan termasuk listrik yang memberi daya pada komputer. Ringkasnya dalam kerja bakti yang sadar akan bekerja dengan keringat bercucuran, yang tidak sadar hanya berpangku tangan.


Dalam kerja bakti para pekerja dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:  sejatinya bekerja dan sepertinya bekerja, karena kerja bakti ini dilakukan secara kelompok bersama sama, maka semua kelihatan ikut ribut tapi bila diperhatikan, keributan ini terbagi dua, ada yang memang benar benar ribut bekerja, ada yang hanya ngeributi (meributi) orang bekerja sehingga kelihatan bekerja, padahal kehadirannya hanyalah bagian menghabiskan komsumsi saja, malahan orang macam ini bila tidak hadir dalam kerja bakti pekerjaan makin cepat jadi, bagi kelompok ini kehadiran di kerja bakti tidak lebih hanya setor muka saja sehingga tetap sempurna sebagai bagian dari masyarakat serta mendapatkan hak sebagaimana masyarakat lainnya padahal sejatinya manfaatnya tidak.


Bagi pekerja di instansi pemerintah, hal seperti diatas tidak boleh terjadi karena diharapkan setiap person harus memiliki tupoksi masing-masing dan harus dikerjakan secara mandiri kalaupun harus melibatkan person lain itu sifatnya saling membantu dan berbagi trik atau metode untuk kesesuain dalam melaksanakan tugas kedinasan, bukan membebankan pekerjaan person kepada person lain yang memiliki derajat dan kewajiban yang sama, karena itulah kemudian pemerintah sekarang ini lebih banyak membentuk jabatan-jabatan fungsional sehingga setiap person memiliki fungsi yang jelas dan hasil pekerjaannya jelas bukan seabaliknya, kerja bebas atau bebas kerja dan dalam waktu yang tidak terbatas.


Sehingga tidak terjadi lagi pekerja tutup kendang (gendang) yaitu di kedua ujungnya ada tapi tengahnya bolong, finger kehadiran dan kepulangan selalu ada tapi tengahnya kosong tidak ada dan tidak melakukan apa-apa, atau seperti tutup terbang (rebana), yaitu finger kedatangan ada tapi kepulangan tidak ada dan ditutup surat keterangan, atau sebaliknya finger kepulangan ada tapi kedatangan tidak ada dan ditutup surat keterangan, namun ada juga pekerja terbang dobol (rebana robek) finger datang dan pulang tidak ada dan selalu ditutup surat keterangan atau surat ijin.


Berikutnya kerja profesi, dalam kerja ini sungguh sangat berbeda dengan dua macam kerja sebelumnya karena dalam kerja profesi, person yang melaksanakan tugasnya mendapat gaji dan rekrutmennya melalui lolos seleksi sehingga bukan bekerja sesuka hati, sebagai pekerja profesi maka person yang ada di dalamnya adalah insan pilihan yang layak dibanggakan. Jika ditanya orang kerja dimana ? pasti dengan bangga menjawabnya, karena sudah terbayang kwalitas kita, sebaliknya bila ditanya kerja dimana ? dijawab kerja bakti atau lebih parah lagi dijawab kerja rodi, lawan bicara kita akan pegang kening sambil bilang capek deh.


Sebagai orang pilihan yang diberi kesejahteraan setiap bulan, maka pekerja profesi harusnya bisa menunjukkan profesionalitas kerjanya, kerja professional jam kerja maupun waktu penyelesaian pekerjaannya jelas, standar produknya jelas, prosesnya jelas, biayanya jelas, sehingga siapapun personnya, dimanapun berada, hasil pekerjaanya hampir sama dan ini laksana sistem yang berlaku secara umum dalam instansi pemerintah, maka bila sampai pada tahapan ini, pekerja tidak hanya diukur lamanya bekerja dalam suatu institusi tapi lebih pada bagaimana pekerja bisa menyesuaikan diri dalam derasnya alur sistem serta penguasaan terhadap piranti kerja kekinian yang mendukung operasional pekerjaan.


Sehingga seorang pekerja tidak lagi hanya nunut mukti (ikut senang) pada pekerja lain, artinya walaupun seorang pekerja tidak memiliki kemampuan apapun dia tetap dapat senang dan bahagia karena masih bisa nyendeh (bersandar) pada teman sekerjanya dan masih mendapatkan hak yang sama walaupun sebenarnya tidak melakukan apa-apa karena masih diuntungkan cara kerja rubuh gedang atau melok bawang (pekerja tanpa bekerja) dan ini tidak berlaku pada kerja profesional, karena pada cara kerja professional yang berlaku adalah nunut mati (ikut mati) yaitu bekerja tanpa keahlian dan kemampuan (norok buntek) akan mati dengan sendirinya, adapun mati yang dimaksud adalah mati pendapatannya atau penghasilannya.


Dalam kerja profesional tidak cukup hanya giat dan tahu pekerjaannya, tapi dituntut terus belajar dan berinovasi karena manusia bukanlah makhluk yang statis dalam berpikir, apa yang dulu dianggap bagus dan canggih akan ditinggalkan dalam masa yang akan datang karena terus adanya inovasi, contohnya, dari dulu burung membuat sarang tetap seperti itu, yaitu mengambil rumput-rumput kering lalu dianyam dengan paruhnya sehingga terbentuk tempat dari anyaman rumput kering dengan lobang di salah satu sisinya sebagai pintu, burung sampai hari ini tidak berkreasi atau berinovasi membuat sarang dari kawat (material logam) yang bisa  diambil dari sisa-sisa bendrat proyek bangunan bertingkat, sehingga tidak mudah jatuh bila dilempar oleh anak-anak iseng.


Tidak demikian dengan manusia, bukan saja cara kerjanya, bentuk dan arsitektur tempat tinggal sampai busananya terus berubah. Pada jaman dahulu orang tidak bisa membaca dan menulis bisa dipilih menjadi pemimpin desa, suatu yang tidak terbayangkan untuk masyarakat sekarang, bagaimana dengan urusan surat menyurat, membaca petok dan buku kretek desa, tapi nyatanya pemerintahan desa bisa berjalan lancar-lancar saja, bahkan pada jaman itu tidak sedikit lurah yang tidak familier dengan Bahasa Melayu, sehingga sambutan, pengumuman hampir disampaikan dalam bahasa lokal masyarakat itu.


Jaman bergerak maju, pemimpin atau pamong desa (pelayan masyarakat) yang baik adalah yang bisa membaca dan menulis sehingga diharapkan bisa memberikan pelayanan yang maksimal sesuai kehendak masyarakat dan negara, sehingga  yang ngetren pada masa itu untuk menunjukkan seorang person mampu menulis dan membaca, maka di saku bajunya diselipkan pena celup tinta, dan kadang-kadang kacamata. Ironinya untuk mengangkat harkatnya tidak jarang seseorang menyelipkan pena di saku bajunya walaupun tidak bisa menulis, tapi lumayan juga kalau ada orang bertanya rumah tetangganya, sang pemilik pena bisa menunjukkan dengan menggambarkan route peta, tapi susahnya ada juga yang di saku bajunya kelihatan menyelipkan pena ternyata ketika dipinjam untuk nulis ketahuan hanya tutupnya saja.
Berikutnya jaman merangsek maju lagi, pekerja pemerintah yang baik tidak cukup hanya bisa baca dan tulis saja tapi lebih sempurna bila bisa menggunakan mesin ketik manual, maka pegawai yang bisa mengetik akan menjadi kebanggaan instansi dimana dia bekerja, dalam waktu yang beriring keluar produk baru mesin ketik tapi menggunakan power listrik, penggunaan jari dalam mengetik juga menunjukkan penguasaan seorang pekerja saat mengetik, ada yang dua jari ada yang sepuluh jadi dan itu menunjukkan kepiawaian seorang pekerja.



Bergeser kemudian era komputer, kendatipun seorang pekerja bisa mengetik tidak jaminan untuk bisa mengoperasionalkan mesin komputer, maka pada awal-awalnya lembaga kursus menjamur dimana-mana tak ubahnya dahulu lembaga kursus mengetik pernah jaya, sehingga pekerja yang tidak faham mesin pintar ini akan mengalami kesulitan untuk kemudian terpinggirkan dan agak sulit untuk menunjukkan perannya, lebih-lebih di jaman digital sekarang ini jangankan menunjukkan peran, menempatkan pada suatu posisi dalam satu institusi saja repot sekali.



Kerja Prestasi

Setelah memahami hakikat aneka macam kerja diharapkan muncul adalah kerja prestasi yakni kerja yang membanggakan dan membahagiakan semuanya walaupun tidak mudah, membanggakan karena target terpenuhi, sasaran dan capaian kinerja semua terlampaui, semua alur proses yang benar secara regulasi dilalui, sehingga kepercayaan struktur diatasnya memberi nilai tertinggi, namun itu semua belum cukup karena kesejatian pekerja institusi pemerintah adalah tidak selesai sampai tingginya angka penghargaan yang didapatkan dari struktur diatasnya saja, tapi harus memberi kepuasan bagi masyarakat yang dilayani dan dari kepuasan itulah lahir kebahagiaan.



Salah besar bagi seorang pekerja pemerintah yang hanya mengutamakan kepuasan personal dan mengabaikan kepuasan komunal, personal disini adalah atasan seorang pekerja dan komunal maksudnya masyarakat yang harus dilayaninya, karena pemberian layanan yang buruk bagi komunal akan memberikan dampak buruk bagi personal yang berada diatas pekerja, karena kedudukannya sebagai pembinan kepegawaian.



Ada contoh yang dapat digunakan untuk memudahkan terhadap pemahaman diatas yaitu, cara orang tua kita dahulu ketika membuat kue apem, paling khas dalam pembuaan kue yang selalu dihubungkan dengan acara tahlilan adalah adanya dua bara api yang menganga pada bagian atas dan bawah, maka seorang pekerja (pembuat apem) harus bisa menjaga kesesuaian dua api ini, bila lengah mengontrol api bagian bawah maka nanti hasilnya apem gosong, bukan saja tidak menarik warnanya karena hitam legam, lebih dari itu rasanya pahit dan tentunya tidak bisa dimakan. Begitu juga jika lena terhadap api bagian atas, apem akan bantat (tidak mengembang sempurna) sehingga tidak enak juga untuk dimakan.


Akhirnya, untuk menggapai kerja prestasi tidak ada salahnya bila kita merasa takut, tetapi takut kita terhadap masyarakat yang kita layani, sehingga kita terus berinovasi serta menuangkan segala kreasi yang tidak melanggar regulasi demi kepuasan masyarakat yang berusaha kita penuhi. Sadar akan posisi diri sebagai insan terpilih yang mendapat gaji dan kesejateraan dari ibu pertiwi dan wajib kita balas dengan kerja keras, ikhlas sepenuh hati. Belajar tiada henti untuk memenuhi tuntutan kerja dengan kualitas tinggi.