Berita


Redaktur Web
2019-10-09 14:46:37
Dongkrak Kemampuan Berpikir Kritis, Abdul Main Berikan Materi Analisis Isu Kontemporer

BDKSURABAYA -  Analisisi isu Kontemporer menjadi salah satu materi inti dari Pelatihan Dasar (Latsar) CPNS golongan III. Dengan mengikuti materi tersebut, diharapkan peserta mampu memahami perubahan lingkungan strategis melalui isu-isu strategis kontemporer sebagai wawasan strategis PNS. Peserta juga diharapkan memahami pentingnya modal manusia, menunjukan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai PNS dan pelayan publik yang profesional. Demikian penjelasan Abdul Ma’in, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya yang mengajar materi Analisis Isu Kontemporer kepada peserta Latsar di Stiesia (09/10/2019).



Menurutnya, indikator keberhasilan dari materi tersebut dapat dilihat dari kemampuan peserta dalam menjelaskan konsepsi perubahan lingkungan strategis, menganalisis isu-isu strategis kontemporer dan menerapkan teknik analisis isu-isu dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis.



Ma’in menjelaskan bahwa saat ini PNS sedang dihadapkan pada pengaruh yang datang dari lingkungan internal dan eksternal yang mampu  menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberadaan  Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika yang tercatat  sebagai konsensus dasar berbangsa dan bernegara  senantiasa mendapatkan ujian. Karenanya, PNS perlu mengenal dan memahami secara kritis terkait dengan isu-isu kritis dan kontemporer yang berkembang saat ini atau potensi akan kemunculan isu-isu tersebut, seperti munculnya terorisme, bahaya narkoba, cyber crime, money laundry, korupsi, proxy war.



Dalam menjelaskan tentang modal manusia (human capital) Ma’in menguraikan bahwa modal tersebut terdiri dari modal intelektual, modal emosional, modal sosial, modal ketabahan, modal etika/moral dan modal kesehatan. Modal tersebut baginya sangat berperan bagi PNS dalam menjalankan profesinya.



Sedangkan dalam membahas tentang isu kritis ia memaparkan bahwa isu bisa dikelompokkan menjadi tiga menurut tingkat kepentingannya, yaitu isu saat ini (current issue), isu berkembang (emerging issue) dan isu potensial. Untuk menggolongkan isu yang beredar menjadi isu kritis atau tidak, ia menjelaskan perlunya scan isu yaitu teknik untuk mengenali isu melalui proses scanning untuk mengetahui sumber informasi dari isu tersebut.



Dalam analisis isu, Ma’in menguraikan beberapa teknis analisis yang bisa digunakan, seperti tapisan isu yang menggunakan indikator aktual, kekhalayakan, problematik dan kelayakan, atau analisis USG (urgency, seriousness dan growth). Di samping itu peserta bisa menggunakan teknik analisis isu seperti mind mapping, fishborn dan SWOT (strength, weakness, opportunity dan threat).



Penjelasan dari pria yang meraih gelar doktor dari Unair tersebut sangat menyedot perhatian peserta karena rata-rata memandang bahwa materi tersebut sangat penting dan akan dipakai ketika membuat  rancangan aktualisasi. (AF).