Berita


Redaktur Web
2019-07-31 14:29:33
Kasi Diklat Tenaga Administrasi: Gap Kompetensi Tak Harus Diselesaikan melalui Diklat

BDKSURABAYA -  Undang-undang No. 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) menyebutkan bahwa setiap ASN berhak mendapatkan pengembangan diri minimal 20 Jam Pelajaran dalam setahun. Pengembangan diri tersebut bentuknya bermacam-macam, bisa belajar mandiri, pertukaran  ASN ke instansi lain, sosialisasi, workshop, diklat, mentoring dan coaching.  Hal tersebut dilakukan agar ASN lebih cakap dalam menjalankan tugas dan fungsinya, sehingga tak ada gap kompetensi. Demikian penjelasan Danang Eka Sandi, Kasi Diklat Tenaga Administrasi Balai Diklat Keagamaan Surabaya (31/07/2019).



Seorang ASN bisa mengikuti pengembangan diri sesuai dengan gap kompetensi yang dimiliki saat ini. “ Gap kompetensi tidak harus diselesaikan melalui diklat,” ujar Danang. Menurutnya untuk menutup gap kompetensi, harus dilihat dulu permasalahannya apa.  Jika seorang ASN  masih kurang mempunyai pengetahuan dan keterampilan secara bersamaan pada sebaian besar bidang tugasnya, maka ia perlu mengikuti diklat, namun ketika kompetensi yang kurang tersebut hanya menyangkut sebagian kecil dari kompetensi secara keseluruhan dan menyangkut hal-hal teknis, maka hal tersebut cukup diselesaikan dengan coaching terhadap pegawai.



Coaching menurutnya relatif murah bahkan  bisa tanpa biaya, namun cukup mampu meningkatkan kompetensi pegawai.  Hal tersebut bisa dilakukan di ruang kerjanya, sehingga keuntungannya, pekerjaan rutinnya tidak ditinggalkan. Jadi bisa belajar sambil bekerja.  Yang berperan sebagai coach dalam penjelasannya adalah bisa atasan langsung atau pegawai senior yang telah berpengalaman menangani tugas tersebut.



“Keuntungan lain dari  coaching adalah waktunya yang fleksibel karena dapat dilakukan ketika  coach dan coachee (pegawai yang dibina) sedang mempunyai waktu luang,” ujar Danang yang saat diwawancarai sedang melakukan coaching terhadap bawahnnya. Ia lebih suka menerapkan coaching di tempat kerjanya karena hasilnya bisa langsung terlihat, yaitu adanya peningkatan kinerja pegawai.



“Biasanya teknik  coaching akan lebih diingat oleh pegawai karena ketika ia mengalami permasalahan, langsung mendapatkan pemecahan dari coachnya. Apalagi permasalahan tersebut  menurut pegawai menemui jalan buntu dan sukar untuk dipecahkan. Dengan coaching ia akan teringat, problem dan solusinya,” ungkap Danang mengakhiri penjelasannya. (AF)