Berita


Admin Website BDK Surabaya
2016-09-20 06:34:28

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Peserta Diklat calon Penghulu angkatan ke-4 yang saat ini diajar oleh Syafrudin, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya membahas materi tentang fiqih munakahat khususnya tentang talak. li’an, ila’, khulu’ dan zihar. Menurut Syafrudin, talak adalah perkara yang dibenci Allah meskipun hal tersebut diperbolehkan menurut syariat, tentunya dengan persyaratan tertentu.

            Untuk membahas materi tersebut, ia membagi peserta menjadi 5 kelompok, selanjutnya masing-masing keloompok mempresentasikan materinya di hadapan kelompok lain.

            Dari hasil presentasi tersebut ditambah dengan keterangan dari Syafrudin, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan talak adalah melepaskan hubungan perkawinan dengan memakai lafadz tertentu. Sedangkan hukum talak ada beberapa macam, yaitu mubah, sunah, wajib dan haram. Talak dikatakan mubah jika dengan talak terssbut memberikan kemanfaatan pada pasangan dan tidak da yang dirugikan. Hukum sunah terjadi ketika kemudharatan akan timbul jika psangan suami istri tidak bercerai dan rumah tangganya tak bisa dipertahankan lagi. Hukum talak dikatakan wajib biasanya dilakukan oleh hakim di mana seorang suami bersumpah tidak menggauli istrinya dalam jangka waktu tertentu dan ia tidak membayar kafarat sumpah agar ia bisa menggauli istrinya kembali. Sedangkan hukum haram terjadi bila talak dilakukan oleh seorang suami tanpa alasan yang jelas sedangkan istrinya dalam keadaan haid atau suci dan dalam masa tersebut ia masih digauli suaminya.

            Li’an adalah pernyataan yang bersifat tuduhan seorang suami terhadap istrinya bahwa istrinya telah berzina. Pernyataan tersebut diucapkan empat kali dan disertai sumpah bahwa jika ia berdusta akan mendapatkan laknat Allah.

            Yang dimasud dengan Ila’ adalah sumpah seorang suami bahwa ia tidak akan mencampuri istrinya dan menahan nafsunya dalam masa 4 bulan atau masa tertentu. Hukum Ila’ tersebut diperbolehkan jika tujuannya untuk memberi pelajaran bagi istrinmya. Ila’ bisa dilakukan dengan lafadz tegas atau kinayah (sindiran). .Jika sebelum sampai 4 bulan suami tersebut kembali kepada istrinya maka ia wajib membayar kafarat berupa memerdekakan seorang budak, memberi makan 10 orang miskin atau berpuasa selama 3 hari. Namun jika sampai 4 bulan suami tidak kembali baik  dengan istrinya, hakim  berhak  menyuruhnya memilih  di antara  dua perkara yaitu membayar kafarat sumpah  serta kembali  baik kepada istrinya, atau menalak  istrinya.  Jika si  suami  itu  tidak mau  menjalankan  salah satu  dari  kedua  perkara  tersebut,  hakim  berhak  menceraikan  mereka  dengan paksa.

            Khulu’(talak tebus) adalah talak yang diucapkan suami dengna pembayaran dari pihak istri. Khulu’ bisa dilakukan saat si istri haid atau dalam keadaan suci, karena talak tersebut dilakukan atas permintaan istri. Perceraian yang terjadi karena talak tebus ini mengakibatkan bekas suami tidak bisa rujuk lagi melainkan dengan akad nikah baru. Hukum dari talak tebus ini diperbolehkan, namun suami tidak boleh memaksakan adanya talak tebus kepada istrinya, melainkan murni atas permintaan istri.

            Kelompok terakhir membahs tentang Zihar, yaitu ucapan seorang suami yang menyerupakan istrinya seperti ibunya sehingga diharamkan ia atas istrinya. Jika seorang suami mengatakan seperti itu namun tidak diteruskan dengan talak, maka diwajibkan atas dia untuk membayar kafarat dan haram mencampuri istrinya sebelum membayar kafarat tersebut. Kafaratnya berupa memerdekakan budak, jika tidak bisa maka berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika tidak mampu harus memberi makan 60 orang msikin, tiap-tiap orang ¼ sa’ (3/4 liter).. Dengan diskusi tersebut tampak bahwa peserta telah memahami tentang talak. (AF).