Berita


Redaktur Web
2019-04-10 13:16:50
PESERTA DIKLAT DI TUBAN TERIMA MATERI PEMETAAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN

BDKSURABAYA – Pemetaan Kompetensi Pembelajaran menjadi materi yang wajib dipahami oleh peserta diklat Penilaian Pembelajaran bagi Guru MTs yang diselenggarakan Balai Diklat Keagamaan Surabaya di wilayah kerja kantor Kemenag Kab. Tuban. Tujuan yang ingin dicapai dari pemberian materi tersebut adalah agar peserta mampu menganalisis pemeteaan kompetensi pembelajaran  yang mencakup  hakikat pemetaan kompetensi pembelajaran  dan analisis kata kerja operasional. Pemetaan kompetensi pembelajaran menjelaskan tentang  standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan penyusunan indikator. Sedangkan analisis kata kerja operasional  meliputi kata kerja operasional kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Demikian uraian Zainul Arief, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya saat  di depan peserta diklat. (10/04/2019).


Dalam penjelasannya yang dimaksud Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang meliputi knowledge, skill dan attitude yang harus dipenuhi dan dicapainya dalam sebuah satuan pendidikan. SKL tersebut selanjutnya dibuat acuan dalam pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan dan standar pembiayaan.


Menurut Arief kompetensi inti,  adalah  tingkat kemampuan untuk mencapai SKL yang harus dimiliki peserta didik pada setiap tingkat, kelas atau program. Peserta didik harus mempunyai kemampuan  untuk mencapai kompetensi inti tersebut dalam setiap pembelajaran. Hal tersebut dinamai kompetensi dasar. Kompetensi dasar  yang harus dimiliki peserta didik terdiri dari  pengetahuan, keterampilan dan sikap. Kompetensi tersebut  dikembangkan dengan menganalisis kemampuan awal peserta didik dan jenis mata pelajarannya. Untuk  melihat  ketercapaian kompetensi dasar tersebut  guru perlu menyusun indikatornya yang menunjukkan  tingkat kompetensi dari setiap mata pelajaran, meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.


Ia melanjutkan penjelasannya  tentang kata  kerja  operasional. Baginya kata kerja operasional adalah kata kerja yang dapat diukur ketercapaiannya dan dapat diamati perubahan tingkah laku dan tindakannya, bisa diuji serta dipakai untuk  merumuskan tujuan pembelajaran. Kata kerja operasional tersebut digunakan untuk  mengukur tingkat kognitif, afektif dan psikomotorik.  Arief memaparkan bahwa terdapat revisi kata kerja operasional yang dipakai dalam kurikulum 2013, yaitu direvisi tahun 2016.


Dalam ranah kognitif, kata kerja operasional tersebut terdiri dari  mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3) , menganalisis (C4), mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Untuk afektif terdiri dari menerima (A1), merespon (A2), menghargai (A3), mengorganisasikan (A4) dan karakterisasi menurut nilai (A5). Sedangkan psikomotorik terdiri dari meniru (P1), manipulasi (P2), presisi (P3), artikulasi (P4) dan naturalisasi (P5). (AF).