Berita


Redaktur Web
2021-02-18 16:01:26
ASN BDK Surabaya:  Tangani Pelatihan di Wilayah Kerja  Mampu Asah Kompetensi Sosio Kultural

BDKSURABAYA –  Menjadi panitia penyelenggara Pelatihan di Wilayah Kerja (PDWK)  membawa banyak pengalaman bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya. Di samping tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri karena bisa melayani dan mengantarkan peserta pelatihan untuk memperoleh ilmu yang lebih banyak, kegiatan tersebut ternyata bermanfaat dalam  memperkaya kompetensi sosio kultural bagi panitia. Demikian rata-rata penjelasan ASN BDK Surabaya ketika dimintai penjelasan tentang manfaat menjadi panitia penyelenggara pelatihan di daerah. (18/02/2021).


Sri Rejeki, misalnya, yang ditugaskan sebagai penyusun bahan penyelenggaraan diklat. Baginya, menjadi panitia PDWK , yang jaraknya dari rumah bisa ratusan kilometer yang tersebar di wilayah kerja Kemenag se-Jawa Timur,  memberikan nuansa tersendiri. Di satu sisi, tugas tersebut membutuhkan motivasi yang tinggi karena harus meninggalkan keluarga, namun di sisi lain adanya kegitan tersebut bisa mengurangi kejenuhan dari rutinitas sehari-hari.


“Tugas tersebut menjadi tantangan tersendiri karena saya harus menyiapkan dulu keluarga yang ditinggalkan, apalagi jika mempunyai anak kecil. Maka diperlukan motivasi yang kuat dan daya juang yang tinggi. Namun tampaknya  memberikan pengalaman tersendiri bagi saya. Kiita  dituntut mampu  berinteraksi dengan banyak orang yang berlatar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Jadi menangani pelatihan akan mempu mengasah kompetensi sosio kultura sebagai PNS” terang Sri.


Pandangan yang hampir sama disampaikan oleh Lutfi, pengelola kepegawaian. Menurutnya, bertugas menjadi panitia pelaksana pelatihan di wilayah kerja memberikan dinamika dalam pekerjaan, sehingga mampu menyegarkan pikiran.  Kemampuan berinteraksi dan memahami orang lain sangat dibutuhkan dalam tugas seperti itu karena perannya adalah sebagai pelayan masyarakat.


“Karena salah satu peran kita adalah sebagai pelayan publik, maka dibutuhkan sikap sebagai pelayan agar peserta pelatihan puas dan terlayani dengan baik. Untuk menjadi pelayan yang baik, maka kita harus mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta pelatihan. Tanpa  hal itu, tampaknya peran kita tak akan maksimal,” urai Lutfi.


Peryataan serupa disampaikan oleh Sayyidatul Muthi’ah, penyusun bahan penyelenggaraan diklat. Menurutnya pelatihan di wilayah kerja menjadi tantangan tersendiri dan itu diperlukan sikap legowo, saling kerja sama dalam tim dan kekompakan.


“Pekerjaan sebagai panitia pelaksana PDWK menuntut kesadaran anggota tim bahwa dibutuhkan peran yang sinergis. Kita perlu menjaga kerja sama yang baik dan  saling membantu. Antar panitia, baik panitia dari BDK Surabaya maupun panitia daerah  juga harus satu visi dalam menjalankan tugas. Hubungan baik sesama panitia dan dengan peserta harus kita jaga. Kita harus sadar bahwa kita melayani orang banyak dengan beragam latar belakang yang berbeda,” tuturnya.


Hilda, yang bertugas sebagai penyusun laporan diklat menyampaikan hal yang tak jauh beda. Dalam pandangannya, ditugaskan menjadi panitia pelatihan di wilayah kerja yang jaraknya dari rumah lumayan jauh, sangat membutuhkan niat yang kuat dan motivasi yang tinggi. Beberapa manfaat dapat ia petik dari tugas tersebut, diantaranya ia semakin memahami bagaimana berinteraksi dengan baik dan menjalin hubungan sosial yang baik dengan seluruh elemen yang terlibat dalam pelatihan, baik sesama panitia, pengajar maupun peserta yang begitu  beragam.(AF).