Berita


Redaktur Web
2019-08-06 13:42:45
Pada  Materi Revolusi Mental, Tri Uraikan Pentingnya Integritas,  Etos Kerja dan Gotong Royong

BDKSURABAYA -  Revolusi mental termasuk materi inti dalam Diklat penyuluh non PNS. Materi yang satu ini bertujuan untuk membangun  mental yang kurang selaras dengan nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong. Peserta diharapkan  memahami urgensi  tujuan revolusi mental, mampu menerpakan strategi internalisasi nilai-nilai revolusi mental,  serta memahami poisinya sebagai penyuluh non PNS dalam gerakan nasional revolusi mental. Di samping itu, diharapkan peserta mamapu menerapkan nilai-nilai revolusi mental dalam kehidupan sehari-hari dan mempraktikkannya dalam penyelesaian masalah yang dihadapi di masyarakat. Demikian penjelasan Tri Rumhadi, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya ketika memberikan materi Revolusi Mental di hadapan penyuluh Non PNS di Balai Diklat keagamaan Surabaya (06/08/2019).


Tri menerangkan bahwa tiga nilai revolusi mental yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong telah lama menjadi nilai-nilai dalam budaya Indonesia dan telah lama diprakatikkan masyarakat.  Namun, nilai-nilai tersebut penting untuk disampaikan kembali agar peserta diklat lebih memahaminya selanjutnya menerapkannya dan menyampaikan  ke masyarakat binaan.


Menurutnya, adanya  Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental mendorong setiap lembaga pemerintah menerapkan revolusi mental.  Tujuan Inpres tersebut adalah  untuk  membangun karakter bangsa dengan berlandaskan nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong. Hasilnya, akan terbentuk   budaya bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila.


Integritas yang menjadi pilar pertama dari revolusi mental mengandung makna keselarasan antara yang diucapkan dengan yang dilakukan. Orang yang berintegritas menurut Tri adalah orang yang konsekuen dan jujur dalam berperilaku, apakah  hal tersebut ada aturan ataupun tidak ada aturan. Sedangkan etos kerja mengarah pada sikap,  perilaku dan nilai-nilai dari indiividu terhadap pekerjaan.  Etos kerja yang tinggi menunjukkan semangat dan motivasi kerja yang tinggi sedangkan sebaliknya etos kerja rendah akan ditunjukkan dengan adanya kemalasan, keterlambatan dan sikap apatis dari seseorang.


Dalam menguraikan tentang gotong royong, Tri meyakini bahwa nilai-nilai tersebut sejak lama menjadi nilai-nilai bangsa Indonesia dan telah menjadi modal sosial bagi kemajuan masyarakat. Untuk itu nilai gotong royong perlu ditumbuhkan dan diterapkan karena selain terbukti ampuh, nilai gotong royong juga merupakan perwujudan rasa kesetiakawanan sosial dari masyarakat.


Dalam pandangan Trii, revolusi mental tersebut sejalan dengan 5 nilai budaya kerja yang dicetuskan oleh menteri agama, yaitu integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. (AF).