Surabaya – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya kembali menggelar rapat pembangunan Zona Integritas (ZI) pada Senin, 4 Maret 2025. Rapat yang berlangsung di ruang pertemuan BDK Surabaya ini merupakan pertemuan ketiga dalam rangkaian evaluasi dan pemantapan strategi menuju predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). Dihadiri oleh Kepala BDK Surabaya, Kasubbag TU, serta seluruh anggota dari enam area perubahan, rapat ini menjadi ajang penting dalam memastikan bahwa setiap tahapan pembangunan ZI berjalan sesuai dengan rencana.
Jika pada dua rapat sebelumnya pembahasan lebih banyak menitikberatkan pada pemetaan tugas dan peran masing-masing area, kali ini rapat berfokus pada finalisasi timeline. Setiap tim dari enam area perubahan diberikan kesempatan untuk memaparkan perkembangan program kerja mereka, tantangan yang dihadapi, serta strategi yang akan diterapkan untuk memastikan target yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Keenam area perubahan dalam pembangunan ZI ini mencakup Manajemen Perubahan, Penataan Tata Laksana, Penataan Sistem Manajemen SDM, Penguatan Akuntabilitas, Penguatan Pengawasan, dan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. Masing-masing area memiliki peran krusial dalam mendukung transformasi BDK Surabaya menjadi lembaga yang lebih transparan, profesional, dan akuntabel.
Dalam diskusi yang berlangsung intens, beberapa tim menyampaikan perlunya penyesuaian timeline agar lebih realistis dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Ada pula masukan terkait strategi percepatan, termasuk optimalisasi koordinasi antar-area untuk menghindari tumpang tindih pekerjaan serta meningkatkan efisiensi implementasi kebijakan.
Kepala BDK Surabaya dalam arahannya menekankan pentingnya keterpaduan langkah dari seluruh tim dalam menyukseskan pembangunan ZI. “Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua area harus saling berkolaborasi agar tidak hanya mencapai target, tetapi juga benar-benar memberikan perubahan nyata dalam tata kelola di BDK Surabaya,” ujarnya.
Beliau juga menegaskan bahwa timeline bukan sekadar dokumen perencanaan, tetapi harus menjadi acuan kerja nyata yang dieksekusi dengan penuh komitmen. “Jangan sampai timeline hanya menjadi formalitas. Setiap tahapan harus benar-benar kita jalankan dengan kesungguhan agar hasilnya maksimal,” tambahnya.
Kasubbag TU turut memberikan pandangan terkait pentingnya kedisiplinan dalam menjalankan timeline yang telah disusun. “Evaluasi berkala sangat diperlukan. Jika ada hambatan, harus segera dicarikan solusinya agar tidak menghambat progres secara keseluruhan,” ungkapnya.
Sepanjang rapat, suasana berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Para peserta berpartisipasi aktif dengan menyampaikan gagasan serta masukan konstruktif guna memastikan setiap area dapat berkontribusi secara optimal.
Rapat ini diakhiri dengan penegasan kembali terhadap komitmen bersama untuk menjadikan BDK Surabaya sebagai lembaga yang bersih dan berintegritas. Dengan timeline yang telah dimatangkan, diharapkan langkah ke depan semakin jelas dan terarah, sehingga predikat WBK yang diidamkan dapat terwujud dalam waktu dekat.
Pembangunan Zona Integritas di BDK Surabaya bukan sekadar pencapaian administratif, tetapi bagian dari perubahan budaya kerja menuju pelayanan publik yang lebih transparan, profesional, dan berkualitas. Semua mata kini tertuju pada bagaimana implementasi dari rencana yang telah disusun akan diwujudkan di lapangan.
Akankah strategi baru ini membawa hasil yang lebih optimal? Perjalanan pembangunan ZI di BDK Surabaya masih panjang, dan hanya dengan kerja keras serta kolaborasi yang erat, perubahan nyata dapat diwujudkan. (d)