DNA keberagamaan diartikan sebagai nilai-nilai dasar yang melekat dan menjadi identitas dalam cara beragama masyarakat Indonesia. Seperti halnya DNA dalam tubuh manusia yang menentukan karakter dan identitas biologis, Moderasi Beragama menjadi inti dan karakter utama dalam kehidupan beragama yang menjunjung tinggi toleransi, keseimbangan, dan keadilan di tengah keberagaman Indonesia.
Hal ini ditegaskan oleh Staf Khusus Menteri Agama RI, Dr. H. Faried F. Saenong, M.A., M.Sc., Ph.D., dalam Pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama yang digelar secara daring melalui Zoom pada Kamis, 13 Maret 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 35 peserta dari berbagai wilayah kerja Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo.
Dalam pemaparannya, Dr. Faried menekankan bahwa Moderasi Beragama di Indonesia merupakan gerakan sosial yang tumbuh dari bawah ke atas (bottom-up), serupa dengan yang terjadi di Mesir dan Maroko. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Global Politics of Islamic Moderation, yang telah berlangsung selama enam tahun dengan mengambil sampel dari ketiga negara tersebut.
“Moderasi Beragama di Indonesia lahir dari gerakan sosial masyarakat sipil, seperti guru dan tokoh masyarakat, yang berperan aktif dalam membangun kesadaran keberagamaan yang damai dan inklusif,” ujar Dr. Faried.
Lebih lanjut, Dr. Faried menjelaskan bahwa pemahaman agama yang komprehensif menjadi kunci utama dalam memperkuat Moderasi Beragama. Dengan pemahaman yang luas, masyarakat akan mampu bersikap adil dan bijaksana dalam menghadapi perubahan sosial dan tantangan global yang terus berkembang hingga saat ini.
“Dengan memperkuat dua hal penting, yaitu agama sebagai kekuatan perdamaian dan penguatan model keagamaan yang moderat (wasathiyah), kita dapat menjaga harmoni dan mempererat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia,” tambahnya.
Sebagai agen penggerak, para peserta pelatihan diharapkan mampu menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan masyarakat sekitar. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Indonesia dalam mewujudkan perdamaian global melalui pendekatan keagamaan yang moderat.
Dengan dukungan penuh dari Kementerian Agama RI, Moderasi Beragama kini menjadi DNA keberagamaan masyarakat Indonesia yang terus disosialisasikan dan diperkuat melalui berbagai program dan pelatihan, termasuk di lingkungan guru, ASN, dan tokoh masyarakat.
Melalui pendekatan ini, diharapkan lahir generasi yang mampu membawa nilai-nilai agama sebagai kekuatan perdamaian dan menjaga harmoni dalam keberagaman. (d)