Surabaya, 11 Maret 2025 — Dalam kajian rutin spesial bulan Ramadhan yang diadakan pada Selasa, 11 Maret 2025, Ust. Dr. H. Sholehuddin, S.Ag., M.Pd.I., Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya, mengungkapkan pandangannya tentang makna Ramadhan. Beliau menekankan bahwa bulan suci ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan spiritual antara umat dengan Allah, tetapi juga dengan hubungan sosial antar sesama manusia.
“Ramadhan itu lebih dari sekadar ibadah pribadi kepada Allah, tetapi juga mengajak kita untuk mempererat tali silaturahmi dengan sesama. Bulan ini adalah momen untuk mengingatkan satu sama lain agar berbuat baik dan menjauhi segala larangan Allah,” ungkap Ust. Sholehuddin dalam kajiannya.
Dalam kajian tersebut, Ust. Sholehuddin membagikan tiga konsep penting yang bisa dijadikan pedoman dalam menjalani Ramadhan dan kehidupan sehari-hari.
1. Diksi “Khoiro Ummat” dalam Al-Qur’an: Ust. Sholehuddin menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, umat Islam disebut sebagai khoiro ummat, yakni umat yang baik yang senantiasa mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Konsep ini, menurut beliau, sangat relevan dengan Ramadhan, di mana umat Islam diajak untuk tidak hanya beribadah, tetapi juga saling mengingatkan untuk berbuat baik dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. “Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri dan mengajak orang lain untuk berbuat baik, baik dalam konteks ibadah maupun dalam hubungan sosial,” tambahnya.
2. Ummat Wasathoh: Dalam pandangannya, konsep ummat wasathoh atau umat yang moderat menjadi prinsip penting di bulan Ramadhan. Ada dua indikator utama yang harus dipegang oleh umat moderat. Pertama, menjadi saksi atas kebaikan masing-masing dan memberikan penilaian positif kepada orang lain. Kedua, untuk bisa menjadi saksi di hadapan Allah dan Rasulullah, kita harus memperlihatkan sikap yang baik kepada sesama umat manusia. “Moderasi adalah kunci. Kita harus bisa memberikan contoh yang baik kepada orang lain, dan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama,” tuturnya.
3. Tantangan Keberagaman dalam Umat Islam: Ust. Sholehuddin juga mengingatkan bahwa Allah menciptakan umat yang beragam dalam keyakinan dan cara beribadah, bukan tanpa alasan. Keberagaman ini merupakan ujian bagi umat Islam untuk bisa berbuat adil terhadap sesama manusia, tanpa membedakan latar belakang atau perbedaan apapun. “Ramadhan mengajarkan kita untuk mengedepankan sikap adil, dan menjadi umat yang bisa menghargai perbedaan, bukan malah saling menyudutkan atau memecah belah,” tegasnya.
Ceramah ini mengingatkan umat Islam bahwa Ramadhan lebih dari sekadar waktu untuk berpuasa dan beribadah. Ini adalah momen penting untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan sikap moderat dan adil.
Bagi Ust. Sholehuddin, Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk merenung, bertobat, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, tidak hanya di hadapan Allah, tetapi juga di hadapan sesama manusia. “Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momen untuk memperbaiki diri, baik dalam aspek ibadah kepada Allah maupun dalam hubungan sosial kita dengan sesama umat,” tutupnya.
Dengan pemikiran ini, Ust. Sholehuddin mengajak umat Islam untuk menjalani Ramadhan dengan penuh kesadaran, tidak hanya dalam menjalani kewajiban, tetapi juga dalam membangun masyarakat yang lebih baik, penuh dengan kasih sayang dan toleransi. (m)