BDK Surabaya Singgung Fenomena ASN yang Kehilangan Makna Bekerja

Suasana khidmat menyelimuti halaman Balai Diklat Keagamaan Surabaya saat pelaksanaan apel pagi rutin, Senin (18/5/26). Kegiatan yang diikuti seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) ini bukan sekadar agenda pembuka pekan kerja, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang makna pengabdian dan cara memaknai pekerjaan.

Sejak pagi, jajaran pegawai telah berbaris rapi di lapangan kantor. Rangkaian apel berlangsung tertib, mulai dari persiapan pasukan, pengondisian teknis lapangan, hingga pembacaan doa yang dipimpin Jamal. Pelaksanaan apel pagi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun budaya disiplin dan memperkuat ritme kerja ASN di lingkungan BDK Surabaya.

Bertindak sebagai pembina apel, M. Musfiqon menyampaikan pesan yang tidak hanya menyentuh aspek profesionalitas kerja, tetapi juga sisi spiritual dalam menjalankan amanah sebagai ASN. Dalam arahannya, ia mengutip nilai-nilai pendidikan dari Pondok Pesantren Gontor tentang pentingnya keselarasan antara kompetensi, metode kerja, dan penjiwaan terhadap tugas.

“Semua pegawai sejatinya sudah memiliki kompetensi dan kapasitas sesuai bidangnya masing-masing. Namun, yang sering kali menentukan keberhasilan bukan hanya kemampuan, melainkan bagaimana cara menjalankan pekerjaan itu,” ujar Musfiqon di hadapan peserta apel.

Ia menekankan bahwa metode kerja yang tepat memiliki peran besar dalam menciptakan efektivitas organisasi. Kehadiran aktif dalam setiap tanggung jawab pekerjaan, menurutnya, menjadi fondasi utama agar pelayanan publik dapat berjalan optimal.

Tak hanya itu, Musfiqon juga menyoroti pentingnya menghadirkan ruh dalam bekerja. Ia menilai, pekerjaan akan terasa berat apabila dijalani hanya sebatas rutinitas atau tuntutan administratif. Sebaliknya, ketika seseorang mampu menjiwai tugasnya, maka pekerjaan akan menghadirkan rasa bahagia dan kepuasan batin.

Menurutnya, kondisi tersebut dalam tradisi pesantren dikenal dengan istilah laddzatul mu’amalah, yakni kenikmatan dalam menjalankan pengabdian karena adanya nilai spiritual yang menyertai setiap pekerjaan.

Di akhir amanatnya, Musfiqon mengajak seluruh ASN BDK Surabaya untuk tidak sekadar bekerja menggugurkan kewajiban, tetapi juga menemukan makna dan kebahagiaan dalam setiap amanah yang dijalankan. Ia berharap semangat itu dapat melahirkan pelayanan yang semakin tulus, profesional, dan berdampak bagi masyarakat.

Penulis: Mutia

Scroll to Top