
Jakarta (BMBPSDM) — Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) Kementerian Agama saat ini tengah mengembangkan 47 jenis font baru untuk Aplikasi Qur’an Kemenag versi desktop. Pengembangan tersebut mengusung teknologi berbasis simbol yang dinilai lebih unggul dibandingkan font Isep Misbah yang selama ini menggunakan sistem Unicode per karakter.
Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen LPMQ dalam membangun ekosistem digital Al-Qur’an secara mandiri, mulai dari pengembangan aplikasi hingga penyediaan font yang digunakan di dalamnya.
Aplikasi Qur’an Kemenag versi desktop sendiri merupakan layanan Al-Qur’an nonweb yang dapat dioperasikan tanpa memerlukan jaringan internet. Beragam fitur telah tersedia di dalamnya, antara lain font Isep Misbah berbasis Unicode, terjemahan, tafsir, Al-Qur’an Isyarat, serta Al-Qur’an Braille. Aplikasi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penulisan maupun penyusunan tata letak mushaf Al-Qur’an.
Pengembang Aplikasi Qur’an Kemenag, Zarkasi Afif, mengungkapkan bahwa pengembangan aplikasi mandiri ini berangkat dari pengalaman sebelumnya ketika LPMQ hanya melakukan modifikasi terhadap aplikasi pihak lain untuk kepentingan internal.
“Pada masa lalu kami pernah membuat aplikasi, tetapi masih berupa pengembangan dari aplikasi milik pihak lain sehingga tidak dipublikasikan karena belum sepenuhnya merupakan karya sendiri,” ujar Zarkasi di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Ia menambahkan, LPMQ kini berupaya menghadirkan aplikasi yang sepenuhnya dibangun dengan dukungan font hasil karya internal, yakni Isep Misbah. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan layanan digital Al-Qur’an.
Menurut Zarkasi, penggunaan teknologi font berbasis simbol memungkinkan setiap kata Al-Qur’an direpresentasikan dalam satu karakter sehingga tampilan tulisan yang dihasilkan lebih menyerupai penulisan tangan sebagaimana yang terdapat pada mushaf cetak.
“Teknologi ini memungkinkan tata letak yang lebih rapi untuk kebutuhan desain buku serta memiliki kompatibilitas yang luas sehingga dapat diterapkan di berbagai platform,” jelasnya.
Ia menuturkan, proses pengembangan ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan. Pada satu setengah bulan pertama, tim akan memusatkan perhatian pada penyelesaian pembuatan font. Tahapan berikutnya meliputi proses pentashihan, integrasi ke dalam aplikasi, hingga pengujian akhir sebelum digunakan secara luas.
Zarkasi juga mengakui bahwa keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan tersebut, terutama karena sebagian anggota tim tidak memiliki latar belakang teknologi informasi.
“Tantangan terbesar kami adalah jumlah pengembang yang terbatas, ditambah sebagian peserta berasal dari disiplin ilmu di luar bidang teknologi,” katanya.
Sementara itu, Muhammad Hilman Hirzi dari Bidang Pengkajian Tafsir LPMQ yang turut terlibat dalam proses pengembangan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi nyata dalam penguatan layanan digital Al-Qur’an.
“Kegiatan ini menjadi ruang untuk berkontribusi dalam menghadirkan font Al-Qur’an yang berkualitas sebagai bagian dari pengembangan layanan Al-Qur’an digital di lingkungan Kementerian Agama,” ujarnya.
Melalui inovasi tersebut, LPMQ berharap layanan Al-Qur’an digital Kementerian Agama dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung berbagai kebutuhan pemanfaatan Al-Qur’an di era digital.
Sumber: LPMQ BMBPSDM Kemenag RI
Dipublikasikan oleh: Mutia