Surabaya — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendorong dunia pendidikan untuk terus beradaptasi. Guru tidak lagi hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu mengintegrasikan teknologi dan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) agar proses belajar semakin relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Menjawab tantangan tersebut, Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya bekerja sama dengan MGMP PAI SMP Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu Pendidik bertema Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Deep Learning serta Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis AI pada Rabu-Kamis (1-2/7/26).

Kegiatan yang diikuti guru PAI SMP dari berbagai daerah di Jawa Timur itu dibuka langsung oleh Kepala BDK Surabaya, Muchammad Toha.
Dalam sambutannya, Toha menegaskan bahwa guru PAI di sekolah umum merupakan bagian penting dari keluarga besar Kementerian Agama yang perlu terus mendapatkan ruang pengembangan kompetensi secara berkelanjutan.
Ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran pada masa lalu membuat kesempatan pelatihan lebih banyak terserap untuk kebutuhan madrasah. Namun, menurutnya, BDK Surabaya kini terus berupaya memperluas jangkauan layanan agar guru-guru PAI di sekolah umum juga memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas profesionalnya.
“Saya merasa memiliki kedekatan dengan Bapak-Ibu semua karena saya sendiri pernah menjadi guru agama di SMP negeri. Guru PAI di sekolah umum adalah bagian dari keluarga besar kita yang harus terus mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk berkembang,” ujar Toha.
Menurutnya, pelatihan tidak sekadar menjadi sarana peningkatan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk memperluas wawasan, memperbarui semangat, serta memperkuat jejaring profesional antarguru.
Ia menekankan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung melalui transfer ilmu dari narasumber, melainkan juga melalui pertukaran pengalaman sesama pendidik yang telah memiliki praktik-praktik baik di lapangan.
“Kadang-kadang pembelajaran terbaik justru lahir dari sesama guru. Pengalaman yang dibagikan antar rekan menjadi kekuatan besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah masing-masing,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Toha turut mengingatkan pentingnya metode pembelajaran dan karakter pendidik dalam menentukan keberhasilan proses transfer ilmu. Ia mengutip kaidah pendidikan klasik yang menempatkan metode, guru, dan jiwa pendidik sebagai unsur utama dalam membangun pembelajaran yang efektif.
Menurutnya, materi yang baik tidak akan memberikan hasil optimal tanpa metode yang tepat dan guru yang memiliki semangat pengabdian serta jiwa mendidik yang kuat.
Selain penguatan kompetensi pedagogik, ia juga menyoroti peran strategis guru agama dalam menjaga persatuan bangsa dan menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada generasi muda.
Toha menilai guru PAI memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk peserta didik yang mencintai tanah air, menghormati perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
“Guru agama merupakan garda terdepan dalam menanamkan nilai persatuan, cinta kepada bangsa, dan penghormatan terhadap sesama. Pendidikan agama harus menjadi kekuatan yang mempererat, bukan justru memecah belah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan masyarakat muslim terbesar di dunia yang mampu menjaga harmoni dalam keberagaman. Kondisi tersebut, menurutnya, harus terus dirawat melalui pendidikan yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Pelaksanaan bimbingan teknis ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan kapasitas guru PAI dalam menghadapi transformasi pendidikan abad ke-21. Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dengan pendekatan deep learning serta pemanfaatan AI diharapkan mampu melahirkan perangkat pembelajaran yang lebih inovatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik masa kini.
Kolaborasi antara MGMP PAI SMP Provinsi Jawa Timur dan BDK Surabaya juga menjadi wujud sinergi dalam memperluas akses pelatihan bagi guru PAI di sekolah umum, sekaligus memperkuat peran mereka sebagai agen pembelajaran dan penjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Penulis: Mutia
