
Surabaya — Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya terus mematangkan transformasi sistem pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut diwujudkan melalui rapat briefing pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang melibatkan widyaiswara dan tim kerja, Selasa (27/5/2026), di lingkungan BDK Surabaya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis lembaga dalam memastikan pelaksanaan pelatihan berbasis daring berjalan lebih terstruktur, adaptif, dan tetap menjaga kualitas pembelajaran bagi peserta di berbagai daerah. Dalam briefing tersebut, peserta rapat membahas berbagai aspek teknis dan substansi pembelajaran, mulai dari penyusunan materi, metode asesmen, hingga standarisasi bahan ajar antarkelas pelatihan.
BDK Surabaya menekankan bahwa model PJJ bukan sekadar alternatif pembelajaran, melainkan bentuk adaptasi terhadap kebutuhan pengembangan kompetensi ASN yang semakin fleksibel dan dinamis. Sistem pembelajaran daring juga dinilai mampu membuka akses belajar yang lebih luas tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Dalam forum tersebut, dibahas pula penguatan konsep pembelajaran kolaboratif lintas rumpun melalui pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta. Materi pembelajaran dirancang agar dapat diampu secara terpadu oleh widyaiswara dari berbagai rumpun keilmuan sehingga proses belajar menjadi lebih kontekstual dan menyeluruh.
Salah satu peserta briefing menyampaikan bahwa standarisasi materi menjadi perhatian utama agar seluruh peserta pelatihan memperoleh kualitas pembelajaran yang setara di setiap angkatan. Selain itu, seluruh bahan ajar juga ditargetkan rampung sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan demi mendukung kelancaran pelaksanaan program.
“PJJ harus tetap menghadirkan pengalaman belajar yang berkualitas meskipun dilakukan secara daring. Karena itu, keseragaman standar materi dan kesiapan perangkat pembelajaran menjadi hal penting,” ungkap Makmun Hidayat, widyaiswara BDK Surabaya.
Selain membahas mekanisme pembelajaran sinkron dan asinkron, rapat juga menyoroti sistem evaluasi peserta yang dirancang lebih terukur melalui pre-test, post-test, kuis, serta penugasan berbasis platform digital. Mekanisme ini diharapkan mampu meningkatkan kedisiplinan sekaligus partisipasi aktif peserta selama mengikuti pelatihan.
Melalui briefing ini, BDK Surabaya menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ekosistem pelatihan yang lebih modern, efektif, dan responsif terhadap perkembangan dunia pendidikan dan pelatihan aparatur. Transformasi pembelajaran berbasis digital tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas pengembangan sumber daya manusia Kementerian Agama di masa mendatang.
Penulis: Mutia