Dua Hari Belajar AI, Guru PAI Siap Hadirkan Pembelajaran Berbasis Cinta yang Lebih Bermakna

Surabaya – Hanya dalam dua hari pelatihan, para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP di Jawa Timur mengaku memperoleh cara baru dalam merancang pembelajaran yang lebih cepat, kreatif, dan relevan dengan perkembangan teknologi. Penguasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) diyakini menjadi bekal penting untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan zaman, tetapi juga tetap berakar pada nilai-nilai akhlak.

Perubahan tersebut menjadi salah satu capaian Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Mutu Pendidik Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Deep Learning dan Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis AI yang merupakan kerja sama MGMP PAI SMP Provinsi Jawa Timur dengan Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu resmi ditutup pada Kamis (2/7/2026).

Mewakili peserta, Muhammad Asrori mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut membuka cara pandang baru dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran. Menurutnya, berbagai keterampilan yang diperoleh selama pelatihan mampu mengubah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam menjadi lebih efisien melalui pemanfaatan AI.

“Kalau dulu menyusun perangkat pembelajaran membutuhkan waktu lama, sekarang kami belajar bagaimana memanfaatkan AI secara tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Ini menjadi pengalaman baru yang harus segera kami praktikkan di sekolah,” ujarnya.

Ia mengakui bahwa sebagian peserta sempat merasa canggung saat pertama kali menggunakan berbagai perangkat berbasis AI. Namun, setelah mengikuti sesi praktik secara intensif, para guru justru semakin termotivasi untuk terus belajar dan menerapkannya dalam pembelajaran.

Selain memberikan keterampilan digital, pelatihan juga menegaskan bahwa teknologi bukanlah pengganti peran guru, melainkan alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Karena itu, pemanfaatan AI harus tetap diiringi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pendampingan yang humanis kepada peserta didik.

Ketua MGMP PAI SMP Provinsi Jawa Timur, H. Muhammad Jamadi, menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar perubahan istilah, tetapi perubahan paradigma dalam mendidik. Menurutnya, pendidikan harus mampu menumbuhkan kecintaan kepada Allah Swt., Rasulullah saw., sesama manusia, ilmu pengetahuan, bangsa, dan lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa pendekatan deep learning mengajak guru tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi memastikan peserta didik memahami, menghayati, mengamalkan, dan mampu memecahkan persoalan berdasarkan nilai-nilai Islam. Dalam konteks tersebut, guru PAI memegang peran strategis sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan yang menghadirkan pembelajaran melalui keteladanan, kelembutan, dan kasih sayang.

Sementara itu, Kepala Subbagian Tata Usaha Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Anton Sasono, yang mewakili Kepala BDK Surabaya, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah cara belajar generasi saat ini. Guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlakul karimah.

Menurutnya, kecerdasan buatan seperti ChatGPT dapat menjadi sarana yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bertanggung jawab. Sebaliknya, teknologi juga berpotensi memberikan dampak negatif apabila hanya dimanfaatkan untuk menyalin informasi tanpa proses berpikir dan pemahaman.

“Guru PAI adalah garda terdepan dalam membangun karakter peserta didik. Karena itu, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir dan pembentukan karakter,” tegas Anton.

Penulis: Muti

Scroll to Top