Kuasa Allah di Balik Segala Peristiwa

Surabaya (3/3/2026) — Musholla Al Hikmah Balai Diklat Keagamaan Surabaya terasa khidmat usai pelaksanaan sholat Dhuhur berjamaah. Seperti yang telah menjadi tradisi, BDK Surabaya menyediakan “panggung dakwah” bagi ASN terpilih untuk menyampaikan kultum Ramadan.

Pada kesempatan Selasa siang itu, Dr. H. Jamal, M.Pd., Widyaiswara Ahli Utama, mendapat jadwal untuk menyampaikan tausiyah bertema “Kuasa Allah di Balik Segala Peristiwa.” Kultum diikuti seluruh ASN, termasuk unsur pimpinan yang turut berjamaah.

Mengawali materinya, Dr. Jamal mengisahkan peristiwa pasca Fathu Makkah tahun 8 H. Setelah berhasil menaklukkan Mekkah, Rasulullah SAW berkeinginan memperluas syiar Islam ke Romawi dan Persia. Keinginan tersebut menuai penolakan dan ejekan dari kaum musyrikin maupun ahli kitab. Mereka meragukan kenabian Muhammad SAW, bahkan meremehkannya sebagai “orang biasa yang berdagang di pasar”.

Menghadapi kondisi itu, Allah menurunkan penghiburan melalui QS Ali Imran ayat 26–27. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah adalah Pemilik kekuasaan; Dia memberi dan mencabut kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, memuliakan dan menghinakan siapa pun sesuai kehendak-Nya. Bahkan Allah memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, serta mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan sebaliknya.

“Dukungan langit jauh lebih besar dari dukungan siapa pun di bumi,” tutur Dr. Jamal, memberi ilustrasi ringan tentang keberanian seseorang yang merasa didukung pemimpin tertinggi di negeri ini. Jika dukungan manusia saja dapat menumbuhkan keberanian, apalagi Rasulullah SAW yang didukung langsung oleh Allah, Pemilik kekuasaan tertinggi di dunia hingga akhirat.

Penjelasan menarik muncul saat menguraikan makna ayat ke-27, khususnya frasa “Allah memasukkan malam ke dalam siang.” Menurutnya, ayat ini bukan sekadar kiasan, tetapi fakta astronomis: Allah memendekkan dan memanjangkan durasi siang dan malam sesuai peredaran matahari.

Fenomena tersebut lebih mudah dipahami oleh masyarakat yang tinggal jauh dari garis khatulistiwa. Sebagai contoh, pada 3–5 Maret 2026, penduduk Kota Murmansk di Rusia yang berada di 68,5° LU mengalami malam sekitar 15 jam dan siang hanya 9 jam. Sebaliknya, warga Kota Wellington di Selandia Baru (41,8° LS) mengalami siang lebih panjang sekitar 13 jam dibanding malam 11 jam karena masih dalam periode akhir musim panas.

Sementara itu, Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa menikmati keseimbangan durasi siang dan malam yang relatif sama, masing-masing sekitar 12 jam. “Ini patut kita syukuri. Durasi puasa dan waktu berbuka relatif seimbang. Maka semestinya kita lebih semangat menjalankan ibadah Ramadan,” pesan Dr. Jamal menutup kultum.

Melalui kultum Ramadan ini, ASN BDK Surabaya kembali diingatkan bahwa di balik setiap peristiwa ada kuasa Allah yang bekerja. Keyakinan terhadap kekuasaan-Nya menjadi sumber keteguhan dalam menjalankan tugas maupun ibadah, dengan harapan meraih ridha dan janji pahala dari-Nya.

Penulis: Alya

Scroll to Top