Pekan Padat Menanti, BDK Surabaya Perkuat Kesiapan dan Kontribusi Pegawai

Surabaya (BDK Surabaya) — Kesiapan dan kontribusi setiap pegawai menjadi kunci kelancaran pelaksanaan program kerja, terutama saat menghadapi agenda kegiatan yang padat. Pesan tersebut disampaikan Kasubbag Tata Usaha BDK Surabaya, Anton Sasono, saat menjadi pembina apel Senin pagi di lingkungan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Senin (26/10/2026). Apel turut dihadiri Kepala BDK Surabaya, Muchammad Toha, beserta jajaran pegawai.

Dalam amanatnya, Anton menyampaikan bahwa pekan ini BDK Surabaya akan menghadapi sejumlah agenda penting, mulai dari kegiatan orientasi di beberapa daerah di Jawa Timur, orientasi yang diselenggarakan di kampus BDK Surabaya, hingga Baznas Collaboration Leadership. Sejumlah kegiatan tersebut memerlukan persiapan yang matang dan koordinasi yang baik agar seluruh rangkaian berjalan optimal. Terlebih, beberapa agenda akan dihadiri pejabat penting dari pusat, di antaranya Kepala BMBPSDM, Kepala Pusbangkom MKMB, serta sejumlah pejabat lainnya.

Anton mengingatkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kegiatan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu atau dua orang, melainkan hasil kerja bersama seluruh pegawai. Setiap unsur perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya, membangun komunikasi yang efektif, serta memastikan kebutuhan kegiatan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, BDK Surabaya dapat memberikan pelayanan dan penyelenggaraan kegiatan yang profesional kepada seluruh peserta maupun mitra kerja.

Selain menekankan kesiapan kerja, Anton menyampaikan refleksi tentang lima kategori pegawai yang dianalogikan dengan istilah hukum Islam, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Analogi ini digunakan untuk mengajak pegawai mengevaluasi peran, kinerja, dan kontribusinya di lingkungan kerja.

Pegawai kategori wajib dianalogikan sebagai sosok yang keberadaannya sangat dibutuhkan, sehingga pekerjaan dan keberlangsungan tugas tertentu sangat bergantung kepadanya. Kategori sunnah menggambarkan pegawai yang mampu bekerja dengan baik, memberikan kontribusi positif, serta membangun sistem kerja yang memungkinkan tugas didelegasikan tanpa mengurangi kualitas hasil. Kategori mubah merujuk pada pegawai yang menjalankan tugas sebatas kewajiban dasar, tetapi belum menunjukkan kontribusi lebih. Sementara itu, kategori makruh menggambarkan perilaku kerja yang cenderung menghambat efektivitas, seperti kurang proaktif atau menunda pekerjaan. Adapun kategori haram menjadi gambaran paling negatif, yakni perilaku yang merugikan organisasi, melanggar aturan, atau mengabaikan tanggung jawab.

Melalui analogi tersebut, Anton berharap seluruh pegawai BDK Surabaya dapat menjadi pegawai kategori sunnah, yaitu pegawai yang senantiasa memberikan kontribusi, bekerja secara efektif, dan mampu berbagi pengetahuan maupun tanggung jawab dengan rekan kerja. Pegawai yang baik bukan hanya menyelesaikan tugasnya sendiri, tetapi juga membantu membangun sistem kerja yang tertata, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa profesionalisme tidak semata-mata diukur dari seberapa besar organisasi bergantung pada seseorang, tetapi juga dari kemampuan pegawai menghadirkan manfaat, menjaga kualitas pekerjaan, dan mendukung keberhasilan tim. Dengan semangat kolaborasi dan persiapan yang optimal, BDK Surabaya diharapkan mampu menjalankan seluruh agenda pekan ini dengan lancar serta terus meningkatkan kualitas layanan pengembangan kompetensi.

Penulis: Alia Ni’am

Scroll to Top