Public Speaking, Kompetensi Penting untuk Mendukung Profesionalitas Pegawai

Surabaya (BDK Surabaya) — Kemampuan berbicara (public speaking) di depan publik menjadi salah satu kompetensi penting dalam mendukung profesionalitas dan pelaksanaan tugas pegawai. Keterampilan tersebut diperlukan tidak hanya untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga untuk menjelaskan informasi, membangun komunikasi, dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.

Hal tersebut disampaikan Moh. Syaifudin, Pengelola Barang/Jasa Ahli Muda BDK Surabaya, saat menjadi pembina apel pagi di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Senin (14/9/2026). Ia mendorong agar kemampuan public speaking terus dikembangkan melalui pembiasaan dan kesempatan bagi pegawai untuk berlatih berbicara.

Kemampuan komunikasi memiliki relevansi dengan tugas pegawai BDK, khususnya dalam penyelenggaraan kediklatan. Dalam pelaksanaan kegiatan, pegawai berinteraksi dengan peserta, narasumber, widyaiswara, maupun pemangku kepentingan lainnya sehingga informasi perlu disampaikan secara jelas dan efektif.

“Terlebih kita sebagai panitia dan penyelenggara pasti harus memiliki kemampuan berbicara di depan publik,” ujarnya.

Kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan. Kesempatan untuk berbicara dan praktik yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari proses pengembangan kompetensi, sekaligus membangun kepercayaan diri pegawai dalam menyampaikan pikiran dan informasi.

Moh. Syaifudin mencontohkan pengalaman dari tempat kerjanya terdahulu. Saat itu, divisi keuangan dan akuntansi tempatnya bekerja memiliki tingkat keterlambatan yang tinggi serta dinilai masih kurang terbiasa berbicara di depan publik. Kondisi tersebut menjadi perhatian manajemen karena pekerjaan di bidang akuntansi tidak hanya berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan, tetapi juga kemampuan menjelaskan laporan kepada pihak lain.

Sebagai salah satu upaya, manajemen meminta pegawai di divisi tersebut hadir lima menit sebelum jam kerja untuk mengikuti doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan sesi singkat berbagi pengalaman dan menyampaikan apa yang dirasakan.

“Dari kegiatan itu, tingkat keterlambatan kami menjadi berkurang, kedisiplinan menjadi meningkat, dan anak-anak akuntansi pandai berbicara di depan publik,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa lingkungan kerja dapat menjadi ruang pengembangan kompetensi. Pembiasaan berbicara memberikan kesempatan kepada pegawai untuk melatih kemampuan menyampaikan pikiran dan pengalaman secara lisan sekaligus membangun kesiapan berkomunikasi di hadapan orang lain.

Bagi BDK Surabaya, kemampuan tersebut relevan dengan pelaksanaan tugas penyelenggaraan kediklatan. Pegawai tidak hanya perlu memahami aspek teknis dan administratif, tetapi juga mampu menyampaikan informasi kepada peserta dan pihak terkait secara efektif.

Kemampuan komunikasi juga berkaitan dengan kualitas layanan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan. Informasi yang disampaikan secara jelas, komunikasi yang efektif, serta kemampuan merespons kebutuhan pihak lain menjadi bagian dari profesionalitas pegawai dalam menjalankan fungsi pelayanan.

Karena itu, pengembangan public speaking dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan BDK. Kompetensi tersebut mendukung pegawai dalam menjalankan tugas sekaligus membangun interaksi yang profesional dengan peserta kediklatan dan para pemangku kepentingan.

Melalui pembiasaan dan kesempatan untuk terus berlatih, kemampuan komunikasi diharapkan semakin berkembang dan berkontribusi pada penyelenggaraan kediklatan yang efektif serta peningkatan kualitas layanan BDK Surabaya kepada masyarakat.

Penulis: Dewi Satya

Scroll to Top