Rawat Keharmonisan Kerja, BDK Surabaya Didorong Budayakan Nilai Kerukunandan Saling Menghormati

Surabaya — Harmoni di lingkungan kerja tidak lahir hanya dari aturan dan struktur organisasi, tetapi dari cara setiap individu memperlakukan sesamanya. Nilai saling menghargai, rendah hati, dan meluruskan niat dalam bekerja menjadi pesan yang kembali ditekankan di tengah dinamika birokrasi yang terus bergerak menuju pelayanan publik yang lebih humanis.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Muchammad Toha, saat memberikan arahan kepada seluruh pegawai pada apel pagi, Senin (13/7/2026). Menurutnya, keberagaman latar belakang pendidikan, usia, maupun pengalaman tidak boleh menjadi sekat yang menghambat terciptanya suasana kerja yang sehat dan harmonis.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pegawai yang telah menciptakan rasa nyaman dan rukun di lingkungan BDK Surabaya. Apapun latar belakangnya, kita harus saling menghargai dan menghormati. Jangan merasa paling pintar, tetapi teruslah belajar,” tegas Toha.

Ia menilai, budaya saling menghormati merupakan fondasi penting bagi setiap aparatur sipil negara, terlebih bagi insan yang bekerja di bawah naungan Kementerian Agama. Menurutnya, pegawai senior perlu memberi ruang dan penghargaan kepada generasi muda, sementara pegawai yang lebih muda juga harus menjaga adab dan rasa hormat kepada mereka yang lebih berpengalaman.

Lebih jauh, Toha mengajak seluruh pegawai memaknai ibadah secara utuh, tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah seperti salat dan puasa, tetapi juga ibadah ghairu mahdhah yang tercermin melalui perilaku dan tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaan.

“Kalau melaksanakan ibadah sunnah, jangan sampai melalaikan atau mengganggu ibadah wajib. Jangan sampai rajin beribadah, tetapi tidak rukun dengan teman atau masih suka menggunjing. Saling menyayangi dan hidup rukun itu juga merupakan kewajiban dalam agama kita,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa bekerja dengan niat yang benar merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan. Karena itu, setiap tugas yang dijalankan harus dipandang sebagai amanah yang bernilai ibadah, bukan sekadar rutinitas administratif.

Menurut Toha, seseorang tidak sepatutnya meremehkan orang lain yang sedang bekerja karena setiap bentuk pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik memiliki nilai pengabdian. Ia menegaskan bahwa makna ibadah jauh lebih luas daripada sekadar ritual keagamaan, melainkan juga tercermin dalam etika, profesionalisme, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan budaya kerja di lingkungan birokrasi tidak cukup dibangun melalui peningkatan kompetensi semata. Sikap rendah hati, kemampuan menjaga hubungan antarsesama, serta kesadaran bahwa pekerjaan adalah bagian dari ibadah merupakan modal penting dalam menghadirkan pelayanan publik yang berintegritas dan berorientasi pada kemaslahatan.

Penulis: Mutia

Scroll to Top