
Surabaya — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya tahun ini tidak berhenti pada kemeriahan lomba. Di tengah tuntutan efisiensi anggaran, rangkaian kegiatan yang berlangsung selama dua pekan justru membuka ruang bagi pegawai untuk kembali menemukan arti kebersamaan, menjaga kesehatan, dan menikmati kegembiraan di tengah rutinitas pekerjaan.
Serangkaian lomba dan jalan sehat yang melibatkan pegawai BDK Surabaya berlangsung selama dua pekan dan berakhir pada 13 Agustus 2026. Rangkaian peringatan kemudian akan mencapai puncaknya melalui upacara bendera pada 17 Agustus 2026.
Bagi Abdul Main, Widyaiswara BDK Surabaya sekaligus salah satu peserta, kemeriahan tersebut bukan sekadar persoalan siapa yang menjadi juara. Ia melihat ada manfaat yang lebih besar yang justru lahir dari kegiatan sederhana tersebut.
“Kalah-menang bukanlah tujuan, yang terpenting manfaat nyata telah kita dapatkan,” ujar Abdul Main dalam refleksinya setelah mengikuti rangkaian perlombaan.
Menurut Abdul Main, setidaknya ada lima makna yang dapat dipetik dari kegiatan tersebut. Pertama, kegiatan menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme, patriotisme, dan kebangsaan tetap tumbuh di lingkungan ASN. Kedua, lomba dan aktivitas bersama menjadi ruang untuk merajut kembali silaturahmi sekaligus mereaktualisasi jiwa korsa pegawai BDK Surabaya.
Makna lainnya, kata dia, berkaitan dengan kesehatan dan kejenuhan kerja. Aktivitas rekreatif memberi kesempatan kepada pegawai untuk bergerak, bersosialisasi, dan melepaskan diri sejenak dari rutinitas pekerjaan teknis.

“Kita mendapatkan manfaat rekreatif yang sangat baik sehingga meningkatkan kesehatan jiwa-raga serta menghilangkan kepenatan dari rutinitas kerja teknis,” tuturnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan lingkungan kerja tidak hanya dibangun melalui fasilitas formal. Ruang untuk berinteraksi secara lebih cair, bergerak bersama, tertawa, dan saling mendukung juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun suasana kerja yang lebih sehat.
Bahkan, Abdul Main menyebut rangkaian kegiatan tersebut turut meningkatkan apa yang ia istilahkan sebagai “indeks kebahagiaan” warga BDK Surabaya. Ia menyadari bahwa istilah tersebut masih memerlukan pembuktian melalui riset, tetapi menurutnya suasana positif yang tercipta selama kegiatan dapat dirasakan secara langsung oleh para pegawai.
Di sinilah kegiatan Agustusan menemukan makna yang lebih luas. Sebuah kegiatan yang tampak sederhana ternyata dapat menjadi ruang membangun modal sosial di dalam organisasi. Interaksi yang mungkin jarang terjadi dalam rutinitas pekerjaan dapat terbangun kembali ketika pegawai berada dalam suasana yang berbeda.
Hal itu juga menjadi relevan dalam konteks efisiensi anggaran. Menurut Abdul Main, keterbatasan anggaran tidak selalu berarti organisasi harus kehilangan ruang untuk membangun kebersamaan.
Ia bahkan menilai manfaat yang diperoleh dari rangkaian kegiatan tersebut bisa saja melampaui kegiatan rekreatif lain yang membutuhkan biaya lebih besar.
“Beberapa manfaat tersebut bisa jadi melampaui outcome kegiatan lain yang berbiaya besar, semisal outbound. Hal ini menunjukkan kecerdasan pimpinan dalam menyikapi kebijakan efisiensi,” katanya.
Pernyataan tersebut memberikan perspektif bahwa efisiensi bukan semata-mata tentang mengurangi pengeluaran, melainkan juga tentang menemukan cara yang lebih cerdas untuk mencapai tujuan organisasi. Kegiatan yang sederhana, apabila dirancang secara partisipatif dan mampu melibatkan banyak orang, tetap dapat menghasilkan manfaat yang besar.

Bagi organisasi pemerintahan, pendekatan semacam ini dapat menjadi pelajaran. Membangun kekompakan tim tidak selalu harus melalui kegiatan dengan konsep yang mahal dan kompleks. Lingkungan kerja dapat memanfaatkan momentum yang sudah ada untuk menciptakan aktivitas yang sehat, inklusif, dan mampu mempertemukan pegawai lintas tugas serta jabatan.
Selama dua pekan, pegawai BDK Surabaya pun berada dalam suasana yang berbeda dari keseharian mereka. Ada yang berlomba untuk menang, ada yang datang untuk bersenang-senang, dan ada pula yang mungkin awalnya hanya ikut karena diajak rekan kerja. Namun, setelah perlombaan berakhir, pengalaman bersama itulah yang menjadi sesuatu yang dibawa pulang.
Abdul Main memberikan apresiasi kepada Kepala BDK Surabaya, Kepala Subbagian Tata Usaha, seluruh jajaran, serta tim yang telah menggagas dan mendukung rangkaian kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan tahun ini menjadi salah satu perayaan Agustusan paling meriah yang pernah digelar di BDK Surabaya.
“Ini perlombaan ‘terheboh’ sepanjang sejarah BDK-S,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah menunjukkan dedikasi dalam menyukseskan kegiatan. Menurutnya, nilai sebuah kegiatan tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang keluar sebagai pemenang, tetapi juga oleh manfaat yang dirasakan bersama.
Pada akhirnya, semangat kemerdekaan di lingkungan kerja tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan yang besar. Ia dapat hadir dalam bentuk yang sederhana: memberi kesempatan kepada pegawai untuk berinteraksi, menjaga kesehatan, melepas kepenatan, dan membangun kembali rasa sebagai bagian dari satu organisasi.
Rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di BDK Surabaya akan ditutup dengan upacara bendera pada 17 Agustus 2026. Namun, jika melihat refleksi Abdul Main, mungkin hal terpenting dari perayaan tahun ini bukanlah hadiah yang dibawa pulang oleh para pemenang. Yang lebih penting adalah pengalaman bahwa selama dua pekan, pegawai BDK Surabaya telah menemukan kembali ruang untuk tertawa, bergerak, berkompetisi, dan saling mendukung.
Sebab, dalam sebuah organisasi, kemenangan terbesar tidak selalu berupa menjadi juara. Terkadang, kemenangan itu justru ketika orang-orang di dalamnya kembali bekerja dengan hubungan yang lebih dekat, tubuh dan pikiran yang lebih segar, serta semangat kebersamaan yang lebih kuat.
Penulis: Mutia
