Tiga Bulan di Dunia Kerja, Empat Siswi SMK Ini Menemukan Bekal yang Tak Didapat di Kelas

Surabaya (BDK Surabaya) – Tiga bulan berada di lingkungan kerja memberi pengalaman berbeda bagi empat siswi SMK Muhammadiyah 1 Taman. Benita Eka Arijani, Falensia Karina Novitasari, Sofiyah Putri Azzahra, dan Chelse Wulan Virnanda menutup masa praktik kerja lapangan (PKL) di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya dengan mempresentasikan hasil pembelajaran yang mereka peroleh selama menjalani praktik, Kamis (3/9/2026).

Presentasi tersebut menjadi ruang bagi para siswi untuk merefleksikan pengalaman mereka selama berada di lingkungan kerja sekaligus mengukur sejauh mana pengetahuan yang diperoleh selama PKL dapat dipahami dan diterapkan. Mereka menyampaikan berbagai ilmu dan pengalaman yang didapat selama tiga bulan, termasuk proses beradaptasi dengan ritme serta tanggung jawab di lingkungan kerja.

Bagi siswa SMK, pengalaman semacam ini penting karena PKL bukan sekadar memenuhi kewajiban pembelajaran. Interaksi langsung dengan dunia kerja dapat menjadi jembatan untuk mengenali budaya kerja, membangun kedisiplinan, memahami tanggung jawab, sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Hal tersebut tercermin dari penyampaian keempat siswi yang mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama menjalani PKL di BDK Surabaya. Pengalaman tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis, tetapi juga sikap, komunikasi, keberanian dan kemampuan beradaptasi.

Arsiparis BDK Surabaya sekaligus pembimbing PKL, Wadi Rahmoko, mengatakan bahwa proses PKL idealnya tidak berhenti pada terselesaikannya tugas, tetapi menghasilkan perubahan kemampuan pada peserta didik. “Kegiatan ini diharapkan menghasilkan input, output, proses, dan outcome. Meskipun belum sempurna, kalian sudah menunjukkan perubahan, dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi mengerti,” ujarnya.

Menurut Wadi, kemampuan mempresentasikan hasil pekerjaan juga merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Ia mendorong para siswi untuk tidak takut menyampaikan gagasan di hadapan orang lain, karena kepercayaan diri akan menjadi modal ketika mereka melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

“Dalam presentasi juga harus percaya diri. Jangan takut salah, karena anggap saja ini sedang belajar. Keberanian untuk menyampaikan apa yang kalian kerjakan dan pahami akan menjadi bekal ketika kuliah maupun bekerja nanti,” tambahnya.

Wadi juga menilai pengalaman PKL seharusnya menjadi momentum bagi siswa untuk mengenali potensi diri. Dengan terlibat langsung dalam lingkungan kerja, siswa dapat mengetahui apa yang sudah dikuasai, bagian mana yang masih perlu diperbaiki, serta sikap apa yang perlu dibangun sebelum benar-benar memasuki dunia profesional.

Presentasi hasil PKL pun menjadi penanda berakhirnya satu tahap pembelajaran bagi keempat siswi tersebut. Lebih dari sekadar laporan akhir, pengalaman tiga bulan di BDK Surabaya diharapkan menjadi bekal untuk membawa pengetahuan, kedisiplinan, komunikasi, dan kepercayaan diri yang telah mereka bangun ke jenjang pendidikan maupun dunia kerja berikutnya.

Penulis: Mutia Rifda

Scroll to Top