
SURABAYA — Balai Diklat Keagamaan Surabaya bekerja sama dengan Bidang Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kompetensi Pendidikan Agama Islam (PAI), Senin (25/5/2026).
Kegiatan ini dihadiri Kepala BDK Surabaya, Kabid PAIS Kanwil Kemenag Jawa Timur, Kasi PAIS beserta jajaran, serta pengurus inti organisasi guru PAI se-Jawa Timur dari berbagai jenjang pendidikan mulai TK, SD, SMP, SMA/SMK hingga Perguruan Tinggi.
FGD digelar sebagai forum koordinasi dan penguatan sinergi dalam pengembangan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam agar lebih adaptif terhadap tantangan pendidikan dan perkembangan teknologi.
Dalam sambutannya, Kepala BDK Surabaya menegaskan bahwa Balai Diklat Keagamaan saat ini diarahkan menjadi lembaga pengembangan kompetensi yang lebih terbuka dan fleksibel bagi guru dan organisasi profesi.
“Tujuan kita membangun seduluran, kemudian menunjukkan kualitas kita setelah kita empowering bersama itu, bersinergi itu, menjadikan kita lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa BDK Surabaya kini membuka ruang kerja sama yang lebih luas untuk mendukung kebutuhan pengembangan kompetensi guru PAI.
“Ayo, panjenengan butuh apa kepada kita. Monggo Balai Diklat Keagamaan Surabaya digunakan,” katanya.
Menurutnya, bentuk kegiatan pengembangan kompetensi saat ini tidak lagi harus kaku seperti sebelumnya. Kegiatan dapat dikemas lebih fleksibel sesuai kebutuhan organisasi profesi dan guru di lapangan.
“Kalau dulu Balai Diklat itu kaku sekali, harus sekian hari, harus sekian JP. Sekarang kita lebih fleksibel karena arahnya pengembangan kompetensi,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kerja sama pengembangan kompetensi tidak hanya berorientasi pada sertifikat, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi guru.
“Saya sangat bahagia apabila ini ada manfaatnya,” tambahnya.
Sementara itu, Kabid PAIS Kanwil Kemenag Jawa Timur menyampaikan bahwa tantangan pendidikan saat ini menuntut guru PAI untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ia memaparkan bahwa jumlah guru PAI di Jawa Timur mencapai sekitar 31 ribu guru dengan jumlah peserta didik lebih dari 8 juta siswa.
“Bagaimana PAI ini tetap menjadi salah satu yang paling utama di masing-masing sekolah dan juga di masing-masing jenjang,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan karakter peserta didik dan perkembangan teknologi digital membuat guru harus terus melakukan penguatan kompetensi secara berkelanjutan.
“Kita harus selalu diasah karena anak-anak sekarang sudah tidak sama lagi dengan zaman kita dulu,” katanya.
Kabid PAIS juga menyampaikan bahwa pengembangan kompetensi guru tidak cukup hanya dilakukan secara individu, tetapi membutuhkan kolaborasi dan dukungan bersama.
“Kalau sendiri berat, tapi kalau bersama-sama insyaallah itu nanti akan bisa terjangkau,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia berharap program pengembangan kompetensi yang dirancang bersama BDK Surabaya dapat segera direalisasikan mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota agar mampu menjangkau lebih banyak guru PAI di Jawa Timur.
Pada sesi pemaparan materi, Dr. H. Makmun Hidayat, M.Pd. menjelaskan berbagai program pengembangan kompetensi yang dapat dikerjasamakan dengan BDK Surabaya. Sementara Dr. Hj. Khobibah memaparkan mekanisme pelaksanaan kegiatan pengembangan kompetensi sesuai kebutuhan organisasi profesi guru dan jenjang pendidikan.
Melalui FGD ini, BDK Surabaya dan Bidang PAIS Kanwil Kemenag Jawa Timur berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat dalam meningkatkan profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam sekaligus mendukung pendidikan yang lebih berkualitas dan relevan dengan perkembangan zaman.
Penulis: Alia

