Surabaya — Penguatan kompetensi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi langkah strategis dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif, humanis, dan relevan dengan perkembangan zaman. Melalui Bimbingan Teknis Peningkatan Mutu Pendidik bertema “Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Deep Learning serta Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis AI”, guru PAI SMP di Jawa Timur didorong untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membangun karakter dan nilai-nilai kebaikan pada peserta didik.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 1 Juli 2026 tersebut diikuti oleh guru PAI jenjang SMP dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidik agar mampu menghadirkan proses pembelajaran yang kreatif, inovatif, serta sesuai dengan tantangan pendidikan di era digital.
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Moh. Amak Burhanudin, menyampaikan pentingnya peran guru PAI sebagai penggerak pendidikan karakter sekaligus penguatan moderasi beragama di lingkungan sekolah.
Menurut Amak, guru PAI memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang baik, tetapi juga memiliki sikap toleran, berakhlak, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Guru PAI bukan hanya bertugas menyampaikan materi agama, tetapi juga menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan, membangun karakter, dan menghadirkan pembelajaran yang menyentuh hati peserta didik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi menuntut pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi, termasuk dalam pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran. AI dapat dimanfaatkan sebagai pendukung guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, mengembangkan kreativitas, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi peserta didik.
Namun demikian, pemanfaatan teknologi tetap harus berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi menjadi alat pendukung, sementara peran guru sebagai pendidik yang menghadirkan keteladanan, empati, dan kasih sayang tetap menjadi bagian utama dalam proses pendidikan.
Melalui pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), guru PAI diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan peserta didik. Konsep ini menekankan pentingnya membangun hubungan positif antara guru dan siswa, memahami kebutuhan peserta didik, serta menciptakan lingkungan belajar yang penuh penghargaan dan kepedulian.
Kegiatan bimtek ini tidak hanya memberikan penguatan pemahaman konsep, tetapi juga mendorong guru untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang inovatif melalui pendekatan deep learning dan pemanfaatan teknologi AI. Dengan demikian, hasil pelatihan diharapkan dapat diterapkan langsung dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing.
Melalui peningkatan kapasitas guru PAI, Kementerian Agama terus mendorong terwujudnya layanan pendidikan agama Islam yang berkualitas, profesional, dan mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini.
Penulis: Alia
