Sulit Menerima Kritik? Bisa Jadi, Ada Sisi Diri yang Belum Kita Kenali

Surabaya (BDK Surabaya)— Mengenali diri sendiri tidak selalu semudah memahami orang lain. Ada sisi diri yang kita ketahui dan dapat ditunjukkan kepada orang lain, ada pula kekurangan yang justru lebih mudah dilihat oleh orang di sekitar kita. Pesan tentang pentingnya mengenali diri tersebut disampaikan Widyaiswara BDK Surabaya, Mamik Syafa’ah, saat bertindak sebagai pembina apel pagi Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, Senin (12/10/2026).

Dalam amanatnya, Mamik mengajak seluruh peserta apel untuk kembali merefleksikan satu pertanyaan mendasar: apakah setiap orang sudah benar-benar mengenal dirinya sendiri? “Apakah kita ini sudah kenal pada diri kita masing-masing?” tanyanya, mengawali refleksi tentang pentingnya memahami diri sendiri sebagai bagian dari proses memperbaiki kualitas pribadi sekaligus membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Ia mengaitkan pesan tersebut dengan ungkapan yang dikenal dalam tradisi tasawuf, man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, yang secara populer dimaknai sebagai siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. “Mengenali diri sendiri itu penting,” tegasnya. Melalui refleksi itu, Mamik mengingatkan bahwa upaya mengenali diri bukan hanya berkaitan dengan pemahaman terhadap kelebihan dan kekurangan pribadi, tetapi juga menjadi jalan untuk menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan manusia.

Untuk membantu peserta apel memahami proses tersebut, Mamik memperkenalkan konsep Johari Window, sebuah model pemahaman diri yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham pada 1955. Model ini membagi kesadaran diri dan keterbukaan dalam hubungan interpersonal ke dalam empat bagian, yakni open area, blind area, hidden area, dan unknown area.

Area pertama, open area atau daerah terbuka, menggambarkan hal-hal tentang diri seseorang yang diketahui oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Semakin luas area ini, semakin besar pula keterbukaan seseorang dalam berinteraksi. Dalam lingkungan kerja, keterbukaan dapat membantu membangun komunikasi yang sehat, memperjelas ekspektasi, dan memperkuat kepercayaan antarrekan kerja.

Berikutnya adalah blind area atau daerah buta, yaitu sisi diri yang tidak disadari oleh seseorang, tetapi dapat dilihat oleh orang lain. Menurut Mamik, bagian ini menunjukkan pentingnya menerima nasihat dan masukan. Seseorang tidak selalu mampu menilai dirinya secara utuh sehingga membutuhkan perspektif dari orang lain untuk mengenali hal-hal yang luput dari kesadarannya.

“Karena kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara utuh, kita perlu nasihat dan masukan dari orang lain,” demikian pesan yang ditekankan Mamik dalam amanatnya.

Ia juga menghubungkan pentingnya saling mengingatkan dengan nilai Al-Qur’an dalam Surah Al-‘Asr, khususnya pesan watawāṣaw bil-ḥaqqi watawāṣaw biṣ-ṣabr, yang berarti saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Nilai tersebut mengingatkan bahwa masukan tidak semestinya dipandang sebagai serangan terhadap pribadi, melainkan dapat menjadi sarana untuk saling membantu dalam proses perbaikan diri.

Area ketiga, hidden area atau daerah tersembunyi, mencakup hal-hal yang diketahui seseorang tentang dirinya, tetapi belum diketahui orang lain. Area ini berkaitan dengan informasi pribadi yang sengaja tidak dibagikan. Dalam memahami konsep tersebut, keterbukaan tetap perlu disertai kebijaksanaan: tidak semua hal harus disampaikan kepada orang lain, tetapi seseorang perlu mampu membedakan antara privasi yang wajar dan hal-hal yang sebetulnya perlu dikomunikasikan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Sementara itu, unknown area atau daerah yang belum diketahui merupakan sisi diri yang belum disadari oleh individu maupun orang lain. Dalam penjelasannya, Mamik mengaitkan bagian ini dengan kesadaran spiritual tentang keterbatasan pengetahuan manusia dan kemahatahuan Allah, termasuk mengenai perkara yang belum diketahui manusia, seperti jodoh, rezeki, dan maut.

Mamik turut menjelaskan bahwa tiga area pertama dalam Johari Window dapat berubah luas atau sempit seiring proses interaksi dan pengenalan diri. Keterbukaan yang sehat serta kesediaan menerima umpan balik dapat membantu seseorang mengenali sisi dirinya yang sebelumnya tidak disadari. Sebaliknya, refleksi diri juga diperlukan agar keterbukaan tidak mengabaikan batas privasi dan kenyamanan pribadi.

Pesan tersebut relevan bagi ASN, termasuk para widyaiswara dan pegawai di lingkungan BDK Surabaya. Dalam pekerjaan yang menuntut kolaborasi, pelayanan, dan pengembangan kompetensi, kemampuan mengenali diri dapat menjadi bekal untuk membangun komunikasi yang lebih baik. Kesediaan menerima kritik, mengakui kekurangan, dan menghargai pandangan orang lain merupakan bagian dari proses belajar yang berlangsung tidak hanya di ruang pelatihan, tetapi juga dalam keseharian bekerja.

Melalui amanat tersebut, peserta apel diajak untuk tidak berhenti pada penilaian terhadap diri sendiri, tetapi juga memberi ruang bagi nasihat yang membangun. Sebab, mengenali diri bukan berarti merasa telah memahami segalanya tentang diri sendiri, melainkan menyadari bahwa selalu ada hal yang dapat dipelajari, diperbaiki, dan dikembangkan.

Penulis: Mutia

Scroll to Top