SURABAYA (5 Maret 2026) – Banyak orang melaksanakan shalat setiap hari, namun tidak semua mampu menghadirkan kekhusyukan saat berdiri di hadapan Allah SWT. Padahal, kekhusyukan dalam shalat merupakan salah satu tanda utama orang beriman yang dijanjikan keberuntungan oleh Allah. Hal tersebut disampaikan oleh Widayanto, Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, dalam kultum ba’da Zuhur di Musholla Al-Hikmah BDK Surabaya, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan kultum yang diikuti oleh Kepala BDK Surabaya, Kasubag TU, serta para ASN jamaah shalat Zuhur tersebut menjadi momentum refleksi bagi seluruh pegawai untuk kembali meninjau kualitas ibadah yang dijalankan setiap hari, khususnya dalam menjaga kekhusyukan shalat.
Dalam penyampaiannya, Widayanto mengangkat tema ciri-ciri orang beriman dalam Surat Al-Mu’minun, yang secara jelas menjelaskan karakter mukmin yang dijanjikan akan memperoleh keberuntungan dan mewarisi Surga Firdaus.
Khusyuk: Kunci Keberuntungan Orang Beriman
Mengawali penjelasannya, Widayanto mengutip firman Allah SWT dalam Surat Al-Mu’minun ayat 1–2 yang menegaskan bahwa orang-orang beriman yang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalatnya.
“Allah SWT berfirman, Qad aflaha al-mu’minun, alladzina hum fi shalatihim khashi’un. Sungguh beruntung orang-orang mukmin, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya,” ujarnya.
Menurutnya, khusyuk tidak hanya berkaitan dengan ketenangan gerakan dalam shalat, tetapi lebih kepada kondisi hati yang benar-benar hadir, tunduk, dan penuh kesadaran saat menghadap Allah SWT. Ketika hati hadir sepenuhnya dalam ibadah, maka seluruh anggota tubuh akan mengikuti dengan sikap yang lebih tenang dan fokus.
Ia juga menjelaskan bahwa shalat yang dilakukan tanpa kekhusyukan berpotensi hanya menjadi rutinitas fisik semata. Oleh karena itu, setiap muslim perlu terus berusaha menghadirkan hati dalam setiap rakaat yang dijalankan.
Karakter Mukmin Pewaris Surga Firdaus
Lebih lanjut, Widayanto menjelaskan bahwa Surat Al-Mu’minun ayat 1–11 memuat sejumlah karakter orang beriman yang dijanjikan akan mewarisi Surga Firdaus.
Ciri-ciri tersebut antara lain khusyuk dalam shalat, menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, memelihara amanah, menepati janji, serta menjaga pelaksanaan shalat secara konsisten.
Karakter tersebut tidak hanya menunjukkan hubungan yang kuat antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mencerminkan kualitas akhlak serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Melatih Kekhusyukan dalam Shalat
Dalam kesempatan tersebut, Widayanto juga membagikan beberapa langkah praktis untuk melatih kekhusyukan dalam shalat. Di antaranya dengan mempersiapkan diri sebelum shalat, seperti datang lebih awal ke masjid, menyempurnakan wudhu, serta menenangkan hati sebelum memulai takbir.
Selain itu, memahami makna bacaan shalat juga menjadi salah satu cara penting agar setiap doa dan ayat yang dibaca dapat dihayati dengan lebih mendalam. Ia juga mengingatkan jamaah untuk menghadirkan kesadaran bahwa setiap muslim sedang berdiri di hadapan Allah SWT saat melaksanakan shalat.
Di tengah perkembangan teknologi saat ini, ia juga menekankan pentingnya meminimalkan gangguan, termasuk dengan menonaktifkan ponsel atau memilih tempat shalat yang lebih tenang agar fokus ibadah tetap terjaga.
Menguatkan Kualitas Ibadah
Menutup kultumnya, Widayanto mengajak seluruh ASN BDK Surabaya untuk tidak hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga meningkatkan kualitasnya, terutama dalam menjaga kekhusyukan shalat.
Ia juga mengingatkan doa Rasulullah SAW yang memohon perlindungan kepada Allah dari hati yang tidak khusyuk, sebagai pengingat bahwa kekhusyukan merupakan anugerah yang perlu terus diupayakan oleh setiap muslim.
Melalui kultum ba’da Zuhur ini, diharapkan para pegawai BDK Surabaya dapat semakin meningkatkan kualitas ibadah dan menjadikan shalat sebagai sarana memperkuat spiritualitas serta integritas dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Penulis: Dewi