Mengapa Siswa Semakin Pasif? Guru MI Jawa Timur Dibekali Cara Mengubahnya Lewat Kurikulum Berbasis Cinta

Di tengah perubahan paradigma pendidikan yang semakin menekankan pembentukan karakter, pembelajaran Bahasa Indonesia di madrasah tidak lagi dipandang sebatas mengajarkan tata bahasa, membaca, atau menulis. Lebih dari itu, mata pelajaran ini menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan kasih sayang kepada peserta didik sejak usia dini.

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya menyelenggarakan Pelatihan Jarak Jauh (PJJ) Kurikulum Berbasis Cinta pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berlangsung pada Selasa hingga Jumat (14–17/7/26). Pelatihan ini diikuti guru Bahasa Indonesia MI dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur melalui kombinasi pembelajaran sinkron menggunakan Zoom Meeting dan pembelajaran mandiri melalui Learning Management System (LMS) PJJ.

Pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat kapasitas guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu membangun karakter peserta didik melalui interaksi belajar yang penuh penghargaan dan kepedulian.

Di dalam kelas Bahasa Indonesia, misalnya, siswa tidak hanya diminta memahami isi sebuah cerita. Mereka juga diajak mengenali perasaan tokoh, menghargai perbedaan pendapat, menyampaikan gagasan dengan santun, hingga belajar menyelesaikan konflik melalui komunikasi yang baik. Dengan demikian, kemampuan berbahasa berkembang seiring tumbuhnya sikap empati dan cinta kepada sesama.

Salah satu narasumber pelatihan, Widayanto, menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang telah berlaku. Menurutnya, pendekatan ini merupakan cara pandang dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran agar setiap proses belajar mampu memanusiakan peserta didik.

“Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar menambahkan materi tentang kasih sayang, tetapi menghadirkan pengalaman belajar yang membuat setiap anak merasa dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan berkembang sesuai potensinya,” ujar Widayanto.

Ia juga menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam menciptakan ruang belajar yang aman secara psikologis. Ketika peserta didik merasa nyaman, dihormati, dan tidak takut melakukan kesalahan, mereka akan lebih berani bertanya, berdiskusi, serta menyampaikan pendapat. Dengan kata lain, suasana belajar yang dibangun atas dasar cinta justru akan mendorong keaktifan siswa di dalam kelas.

Selama empat hari pelatihan, peserta memperoleh berbagai materi yang saling terintegrasi, mulai dari konsep dasar Kurikulum Berbasis Cinta, strategi implementasi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, penyusunan asesmen yang lebih humanis, hingga penyusunan rencana pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta ke dalam setiap aktivitas belajar.

Tidak hanya itu, guru juga diajak mengeksplorasi berbagai metode pembelajaran aktif agar peserta didik tidak lagi menjadi pendengar pasif. Diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, permainan bahasa, refleksi, hingga kegiatan bercerita menjadi beberapa contoh strategi yang dapat diterapkan untuk membangun keterlibatan siswa sekaligus memperkuat kemampuan literasi mereka.

Menurut Widayanto, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki keunggulan karena hampir seluruh aktivitasnya berkaitan dengan komunikasi antarmanusia. Oleh sebab itu, nilai-nilai seperti menghargai pendapat, berempati terhadap pengalaman orang lain, serta menggunakan bahasa yang santun dapat diintegrasikan secara alami tanpa mengurangi capaian kompetensi pembelajaran.

Melalui pelatihan ini, para guru diharapkan mampu menyusun pengalaman belajar yang lebih bermakna. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari tingginya nilai ujian, tetapi juga dari tumbuhnya keberanian siswa untuk berpendapat, kemauan bekerja sama, serta kemampuan berkomunikasi dengan penuh rasa hormat.

Di era ketika tantangan pendidikan semakin kompleks, guru dituntut tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga menjadi pembentuk karakter. Karena sejatinya, pembelajaran terbaik bukan hanya yang membuat peserta didik menjadi pintar, melainkan juga menjadi manusia yang mampu mencintai ilmu, menghargai sesama, dan memberi manfaat bagi lingkungannya.

Penulis: Mutia

Scroll to Top